Cari

beraquesequebone

Jadi ternyata!?

00.04am memulai menyusun lagi kata per-kata untuk membentuk kalimat yang mengembang menjadi paragraf. Biar nggak kelamaan, mari kita mulai saja.

=========================

Suara alarm begitu keras mengusik tidur gue yang begitu lelap. Gue masih mengeliat menahan rasa kantuk. Kemudian perlahan membuka mata dan terkejut.

“Astaga kesiangan..” 

Karena ketika gue melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Tanpa pikir panjang lagi, gue langsung bergegas mandi dan merapikan diri kemudian tancap gas untuk pergi ke tempat kerja. Kenapa tidak dengan mudah saja gue sebut kantor? Yap! Karena gue bekerja di sebuah restoran sebagai seorang juru masak. Pagi akhir minggu ini seharusnya gue berada di jadwal opening. Dan benar saja, sesampai gue di restoran ternyata sudah cukup ramai pengunjung.

“Reza langsung ambil posisi, ya. Reservasi 45 orang menu steak semua. Temenin Andre di Grilled.” teriak kepala dapur, sekejap gue masuk ke ruangan itu.

Sambil memasang celemek gue bertanya ke Andre, “Apa yang belum nih? Tingkat kematangan gimana?”

“Santai aja dulu, baru juga nyampe. Minum-minum dulu aja. Reserve buat sejam setengah lagi. Tumben telat banget, abis enak kayaknya semalem.” ucap Andre.

Gue yang sambil ngecek-ngecek batu di Grilled terus nengok ke arah Andre, “Hahaha, nggak gitu. Gue semalem tu abis mergokin….. Eh nanti aja deh cerita soal yang ini. Cukup penting soalnya.”

Andre menyodorkan segelas air minum “Oooookeey gue paham. Tapi dianya masih belum tau kan kalo lu udah mulai..”

“Andre, Reza… Mau sampe kapan itu ngobrol terus? Memangnya piring-piring kosong itu laku kalo cuma diisi pake obrolan yang menurut kalian bermanfaat? Fokus fokus!” teriak bapak kepala dapur.

Kami berdua terdiam dan mulai melanjutkan pekerjaan yang seharusnya kami kerjakan.

Oh iya, gue Reza Ardianto, seorang juru masak di sebuah restoran ternama di Jakarta. Andre itu temen kerja dan sekaligus sahabat gue. Lebih tua dari gue, tapi dia nggak mau dipanggil ‘Bang’ hanya sama gue. Menurut dia, ketika dia udah ngerasa deket sama seseorang, dia nggak perlu lagi dihargai dengan panggilan ‘Bang’. Dan oleh karena itu gue bisa jadi begitu dekat serta akrab dengannya. Setahun lalu gue datang ke restoran itu dengan keadaan yang amat sangat berbeda. Suasananya amat sangat kaku dan menurut gue, amat sangat tidak nyaman untuk sisi lingkungan kerja. Semua kepala harus tertunduk saat bicara dengan yang pangkatnya jauh di atas. Tidak boleh ada candaan ketika berada di area dapur. Obrolan di luar pekerjaan amat sangat diharamkan pada saat itu. Dan tidak ada semangat yang tertular sebab semua terasa seperti bekerja sendirian. Keadaan yang benar-benar mungkin tidak disenangi olehmu.

Sulit dibayangkan memang gue bisa bertahan di tempat yang seperti itu. Tapi gue selalu punya prinsip di dalam pekerjaan, yaitu apapun pekerjaan lu, ya harus lu sendiri yang menciptakan suasana sesuai keinginan hati lu. Agak sulit memang. Tapi kalau kita bisa membuktikan bahwa dengan cara kita dan semua pekerjaan tetap terjaga kualitas hasilnya, maka serumit apapun kondisinya, kita pasti akan dapet tempat. Gue selalu percaya hal itu. Meski nggak dalam waktu yang singkat, gue akhirnya bisa mengubah suasana kaku tadi menjadi sesuatu yang baru dan dinikmati oleh semua karyawan, khususnya yang bertugas di dapur seperti gue.

Kurun waktu empat bulan, gue bukan hanya mampu mengubah suasana bekerja. Gue mendapatkan bonus bisa berkenalan dengan seorang wanita cantik yang sekarang ini jadi pacar gue. Namanya Putri Rahmawati, seorang gadis yang pada saat gue mencoba kenalan, baru saja masuk beberapa hari di restoran itu. Perawakannya mungil dan cukup memiliki body yang bagus. Berambut panjang lembut dan memiliki bola mata bewarna coklat. Tattoo di lengan kirinya menambah daya tarik tersendiri buat gue. Karena menurut gue, cewek bertattoo itu keindahan ganda. Karena ada perpaduan antara karya Tuhan dan hamba kreatif.

Cukup diketahui banyak orang di restoran itu, bahwa itu adalah kali pertama gue tertarik dengan perempuan yang bekerja di sana. Sebelumnya, banyak yang mencoba akrab namun gue batasi hingga ‘mengenal’. Bukan, bukan gue kepedean, tapi pengaruh yang gue bawa ke restoran itu cukup membuat beberapa wanita di sana tertarik dengan gue. Ditambah dengan kepribadian gue yang penuh dengan haha hihi, membuat siapapun yang akrab dengan gue bahagia. Kembali ke proses perkenalan gue dengan Putri. Pagi itu gue datang dengan cukup santai sebab jam masuk gue masih tersisa banyak. Jam kerja yang bikin gue seolah nggak punya kehidupan lain selain di restoran itu. Jadi, misalnya nggak hari libur, maka seharian penuh gue pasti berada di restoran itu. Apa itu kehidupan luar? Asing rasanya di telinga gue, bahkan mungkin seluruh karyawan restoran itu.

Gue menghampiri finger print “Mak, bang And…. Eh ada anak baru. Namanya siapa?” lalu mengambil pulpen untuk menulis nama di absen tertulis.

“Putri, kak. Kakak pasti Reza, ya?” balasnya.

“Kok lu tau nama gue? Oh lu udah buka dan baca data karyawan, ya?” balas gue lagi.

Dia cuma senyum terus berucap “Anu.. Itu soalnya kakak tulis di absen Reza love Putri.”

Gue yang panik mulai mengarahkan padangan ke buku absen. Ternyata benar, yang dia ucap sama persis dengan apa yang gue tulis. Pada saat itu gue cukup malu, tapi semua berubah ketika gue justru melihat dia senyum. Cantik banget! Dari yang tadinya mau nyoret karena salah, malah jadi gue ukir-ukir biar bagus. Dan hari itu jadi hari yang indah menurut gue, ya meskipun setelahnya diomeli sama Operational Manager karena dipikir main-main waktu ngisi absen. Selepas hari itu, gue bahkan makin dekat dengan gadis yang menurut kabar tersiar, paling di taksir di restoran itu.

Seperti yang gue bilang tadi, kehidupan kami para karyawan itu hampir sepenuhnya berada di lingkungan restoran. Jam kerja 9 jam serta istirahat 3 jam membuat kami total 12 jam berada di area restoran. Waktu istirahat itu hanya kami manfaatkan untuk bergerak tak jauh dari restoran, bahkan sebagian besar memanfaatkan hanya dengan tidur di tempat yang telah disediakan oleh pihak restoran. ‘Witing tresno jalaran soko kulino’ katanya orang Jawa. Dan itu terjadi sama gue dan Putri. Mungkin karena didukung oleh kebetulan jam istirahat yang sama, maka kami sering bertemu. Sebab kalo cuma mengandalkan jam waktu kerja saja, rasanya nggak mungkin gue yang berada di dapur bisa dekat dengan dia yang berada di kasir. Terpujilah ibu OM sang pembuat jadwal. Dari seringnya bareng saat istirahat, gue selalu memanfaatkannya sebaik mungkin. Setiap hari gue racuni dia dengan benih-benih cinta yang tumbuh membumbung tinggi. Ya, se-tertarik itu gue dengannya. Entah mungkin dia merasa terancam atau enggak, gue juga nggak tau. Pokoknya pepet terus jangan kasih kendor.

Dua minggu berlalu dan akhirnya gue nyatakan perasaan gue setelah merasa yakin dengan apa yang sudah gue berikan. Tidak terkejut sedikitpun gue ketika dia menerima dan mau jadi pacar gue. Tapi di dalam hati sungguh sangat senang sekali rasanya. Hey bro, dia ini cantik banget loh. Satu restoran cowok pada pengen deketin dia dan gue yang berhasil. Kalo sampe biasa aja mah ya berarti gue bohong dong.

“Sibangsat, baru sekali nyatain perasaan udah diterima. Danu udah dua kali ngajak dia jadian ditolak, loh.” ucap Andre selepas denger cerita kebahagiaan gue.

“Seriusan? Danu udah nyatain dua kali? Lah kok gue baru tau. Tau gitu mah gue kasih ke Danu aja, kabar kalo gue diterima ama Putri. Biar makin gondok. Hahahahaha”

Andre tertawa keras sekali kemudian merangkul gue “Selamat ya. Gue akuin lu top kali ini. Tapi gini nih, kan gue mah ya saksi banget ni gimana perjuangan lu ke dia. Bahkan bikinin puisi juga biar lu makin keliatan he’eh. Bakso atau es campur seger banget ni jam segini. Bolelaaaa..”

“Puisi apaan lu. Gua inget itu puisi yang lu kasih ke Meta, terus abis baca itu ybs nggak masuk tiga hari karena sakit. Berak-berak apa ya kalo nggak salah waktu itu.”

“Yeeee sibangsat. Kaga begitu ceritanya. Dia mah emang karena lagi diare aja, bukan karena abis baca puisi gue. Eh tapi emang iya, ya? Dia mencret gara-gara abis baca puisi dari gue?”

Kemudian gue tertawa terbahak-bahak dan diiringi tawa dari Andre.

Hari terus berlalu hingga hubungan gue dan Putri mulai diketahui oleh semua karyawan. Semua berjalan normal hingga hari ulang tahun gue. Hubungan gue dengan Putri juga sudah menginjak waktu 5 bulan. Gue diberikan surprise dan itu untuk pertama kalinya dalam hidup gue. Bahkan pada saat itu, gue merasa sepertinya memang wanita ini ditakdirkan untuk gue. Gue bahkan nggak inget tahun lalu itu pas ulang tahun dikasih apa oleh siapa. Ya karena saking nggak pernahnya merayakan ulang tahun, pun mendapatkan hadiahnya. Kemudian hadir Putri sebagai orang pertama yang cukup sering memberikan kejutan ke gue termasuk surprise perayaan ulang tahun ini. Detik itu gue menganggap dia sudah lebih satu titik di antara sekian banyak perempuan yang pernah dekat dengan gue. I love you Putri!

“Terima kasih banyak ya, Ndut. Ini pertama kalinya loh aku dikasih kejutan ulang tahun. Aku seneng banget.” iya benar, Ndut itu panggilan sayang gue ke dia dan yang akhirnya diikuti oleh semua masyarakat restoran.

Putri nampilin senyum terbaiknya dan berucap “Iya sama-sama, beib. Aku juga amat sangat seneng kalo kamu seneng. Tapi masa makasih doang. Peluk dong!”

Kemudian gue memeluknya erat sekali. Rasanya kayak kalo detik itu kiamat dan seluruh bagian bumi rontok, gue rela.

“Bebeeeeeb.. Kekencengan meluknya ih. Aku nga bisa nafaaaas. Huuuuuft” teriak Putri dengan nada manja yang kemudian melepaskan pelukan gue yang kekencengan itu.

Waktu terus bergerak menuju enam bulan hubungan kami. Masih dalam keadaan normal serta tanpa masalah sedikitpun. Bahkan kelihatannya, dia makin sayang sama gue. Kalo gue sih nggak usah ditanya lagi lah, sayang banget. Kemudian suatu hari gue dipanggil ke ruang kasir sama Emak, beliau ini kasir sekaligus karyawan paling senior di sana. Waktu itu jam istirahat, makanya gue minta izin sedikit telat untuk nemuin Putri.

“Za, lu beneran pacaran sama Putri?” tanya Emak. Namanya bukan itu, tapi semua orang manggilnya begitu.

Gue sedikit mengernyitkan dahi karena pertanyaan dari emak itu. “Emm iya mak. Kenapa?”

“Waladalah… Yowis-yowis. Nggak apa-apa, kok.”

Gue meninggalkan tempat itu dengan penuh pertanyaan. Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan sama Emak? Nggak pernah mau tau urusan orang, dan baru kali ini dia bertanya soal hubungan gue dan Putri. Cukup bikin gue banyak berspekulasi pada saat itu. Di tengah jalan menuju ke tempat Putri menunggu, gue papasan dengan Danu.

“Wah kebetulan. Mau kemana lu, Za?” sapa Danu.

Gue jawab “Biasa, Dan. Kebetulan apa nih?”

“Oh iya iya paham gue. Enggak, gue cuma mau kasih tau aja. Mending dari sekarang lu jauhin Putri. Dia itu…” belum selesai bicara dia melihat Putri datang.

“……. Nanti ada Reserve lagi kayak tadi. Tapi orangnya lebih banyak. Ini gue disuruh Pak Pelong buat ngasih tau elu. Yaudah gitu aja, Za. Gue ke kantin dulu, ngopi.” Danu melanjutkan ucapannya dan itu terasa aneh buat gue.

Tapi karena kedatangan Putri yang mengejutkan itu, membuat gue juga nggak berani untuk menegaskan maksud ucapan si Danu. Semua kembali menjadi misteri buat gue. Awalnya Emak bertanya soal hubungan gue dengan Putri, kemudian beberapa saat setelahnya, Danu menyarankan gue untuk menyudahi hubungan dengan Putri. Sebuah tanda tanya besar. Eh itu titik ding, gini nih ? Tapi besar.

Beberapa hari selepas hari itu, Andre membisikkan sesuatu yang membuat gue sedikit terkejut.

“Gue pikir tadinya Danu cuma mau ngetes lu aja. Supaya setelah lu mundur, Danu masuk. Ya kita kan tau kalo Danu juga suka sama Putri.” ucap Andre.

“Gue sempet mikir gitu, tapi sekarang kan Danu lagi deketin Lisa. Masa dia mau maju ke semuanya?” gue mencoba positif thinking terhadap Danu.

“Yaudah mending lu pastiin sendiri aja. Dari pada cuma curiga-curiga karena selintingan kabar ya kan?”

Hari ini tidak begitu banyak pekerjaan sebab biasanya restoran kami memang sangat sepi di hari Jum’at. Namun kemudian bisa membludak pengunjungnya acap kali akhir pekan. Siang itu tak banyak menguras energi. Dan bahkan rasanya waktu istirahat tidak ingin gue gunakan, sebab gue masih terlalu bugar untuk melanjut pekerjaan. Waktu yang berlalu begitu santai, perlahan mulai menemui ujungnya. Hari yang penuh dengan carut marut di pikiran gue berakhir. Malam itu memang gue memiliki misi khusus untuk diri sendiri. Gue harus membututi rasa penasaran gue yang disebabkan oleh selintingan kabar. Amat sangat menganggu katentreman jika tidak diungkap kebenarannya. Gue mulai mengikuti rasa ingin tau gue itu hingga akhirnya apa yang gue cari ketemu.

“Jadi beneran dia udah punya suami?” Andre terkejut.

Gue menjawab seraya menoleh sekitar “Goblook, jangan kenceng-kenceng! Nanti pada denger, nggak enak sama dianya.”
“Oh maap maap.. Jadi beneran?”

“Iya, dan bahkan udah punya anak. Gue shock abis loh pas nyaksiin langsung.”

“Tapi yakin itu suami sama anaknya? Siapa tau cuma keponakan yang numpang nginep di rumahnya?” Andre mempertegas.

“Yakali kalo itu cuma keponakan dan laki-laki yang di rumah sama anaknya itu cuma saudara, mereka ciuman terus peluk-peluk mesra. Dan jelas banget gue denger itu anak manggil dia Bunda.” penjelasan gue ke Andre.

Jadi itulah alasan gue telat pada hari itu. Gue membuntuti Putri sampai ke rumahnya supaya tau siapa dia sebenarnya. Gue cukup menyayangkan kejadian ini. Kenapa gue baru berasa aneh soal dia nggak pernah mau dianter sampe rumah dan mau cuma sampe gang? Kenapa?

Kenapa orang-orang harus benar soal Putri yang ternyata sudah menikah?

Kenapa dia terlihat cantik dan single sekali pada saat gue suka?

Dan kenapa gue goblok? Kok bisa kecolongan sampe 6 bulan lebih.

Pikir gue pada saat itu adalah dosa besar yang telah gue buat ke suami dan juga anaknya. Mereka yang nggak pernah tau apa yang istri dan bundanya lakukan di luar rumah? Keadaan yang didukung oleh jam serta kehidupan pekerjaan. Seperti yang gue bilang di awal tadi, apa itu kehidupan dunia luar? Kami nggak bisa banyak tau soal apa yang terjadi di luar sana, dan orang di luar sana nggak akan pernah tau apa yang terjadi dengan kami di dalam sini. Waktu memenjarakan nalar serta naluri kami. Beruntungnya gue masih memiliki sedikit sisa rasa penasaran, sehingga itu semua bisa terungkap. Seandainya kalo enggak, gue nggak tau akan sampai berapa lama lagi gue bertahan di ketidaktahuan tentang hal penting.

“Terus rencana lu selanjutnya gimana? Apa mau langsung lu cut gitu aja?” tanya Andre.

“Oh tenang aja. Gue nggak akan melakukan itu. Tapi gue akan kasih dia kejutan, seperti dia biasa kasih ke gue. Gue butuh bantuan lu buat bujuk Bu Oni dan Pak Pelong biar jadwal gue minggu depan disesuaikan dengan mau gue. Minggu depan kan dia ulang tahun, tuh.”

Andre yang paham dengan maksud gue, langsung bergegas menemui dua orang tadi dan mengkondisikan semua yang gue minta. Temen gue yang satu ini emang paling bisa diandalkan pangkatnya di restoran itu. Kemudian gue mulai menyusun sebuah rencana di kepala gue. Gue tidak ingin berbuat jahat kepada siapapun dalam hal ini. Tapi gue punya tugas untuk mengembalikan apa yang sudah gue rusak. Prinsip gue ternoda oleh ketidaktahuan gue. Makanya selagi masih bisa, gue harus perbaiki ini.

Dimulai dari menemui secara langsung suami Putri. Tingkat keberanian gue naikkan setinggi-tingginya dengan resiko mungkin akan ada benda tajam yang menghujam kepala gue. Memang tidak mudah, tapi kalo mau semuanya sesuai dengan yang gue rencanakan, gue harus bisa. Detik-detik awal gue ketemu dan melakukan pengakuan ke laki-laki itu, pukulan keras tepat mendarat di pipi gue.

“Abang boleh benci saya, Abang boleh pukul saya terus, Abang boleh hukum saya dengan tindakan. Tapi abang perlu tau, saya dateng ke sini dengan maksud baik. Saya berani-beraniin buat ngaku, karena saya nggak yakin kalo ada di posisi abang bakalan bisa santai nerima gitu aja. Apalagi setelah saya liat si adik ini. Saya makin merasa bersalah meski saya nggak tau kalo Putri udah punya suami dan anak.”

Dengan wajah yang makin memerah menahan emosi, serta kepalan tangannya yang terlihat makin menguat membuat gue takut setakut takutnya orang takut. Kemudian dia meraih pundak dan merangkul gue. Aura kemarahannya terasa sekali. Degup jantung yang cepat serta panas tubuhnya amat sangat terasa pada saat itu.

“Yang gue nggak habis pikir, kenapa elu berani datengin gue dan bilang jujur kalo elu pacaran sama dia? Padahal sejauh ini nggak pernah ada yang berani sampe akhirnya gue sendiri yang tau dan nyamperin orang itu.” suami Putri kemudian menceritakan semua kisahnya.

Entah berapa banyak laki-laki yang sudah menjadi korban Putri. Tapi agaknya, gue mendapatkan sisi terbaik dari berani mendatangi dan mengakui bahwa gue pacaran dengannya, kepada suaminya langsung. Gue sempat berfikir bahwa Putri memiliki kecenderungan mudah tertarik dengan lawan jenis. Sebab jika menyaksikan apa yang terjadi, ia seperti nggak punya masalah apapun dengan suaminya. Begitupun suaminya yang gue rasakan. Hanya saja, suaminya memang sering mengetahui bahwa Putri sering menjalin kasih dengan laki-laki lain. Begitu masalah diketahui, langsung redam, seperti tidak terjadi apapun. Akhirnya keberanian gue terbalas dengan kebaikan dari Suami Putri. Dia mau gue ajak kerjasama untuk membuat Putri jera.

Hari itu libur gue yang nggak gue samakan dengan libur Putri. Sesuai permintaan gue yang ternyata didukung oleh keadaan. Setelah menemui sang suami, gue bergegas mencari kado untuk Putri. Gue memberikannya sepatu, persis seperti yang dia minta. Dan malam selanjutnya selepas pulang kerja, kami berdua menuju ke tempat yang Putri pilih untuk merayakan hari ulang tahunnya. Gue yang berangkat dengan sebuah rencana besar mengikuti semua keinginan Putri pada malam itu. Kami berhenti di sebuah restoran cukup romantis. Amat sangat mendukung suasana pada saat itu. Lalu kami beranjak masuk dan memesan beberapa makanan.

Sambil menunggu makanannya tiba gue mulai mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

“Selamat ulang tahun ya, Ndut. Semoga makin jadi yang terbaik buat orang-orang terdekat kamu. I love you.” seraya menyodorkan kado.

“Aaaahhh bebeeeb.. Terima kasih banyak, ya. Aku seneng banget. I love you too. Ini aku buka sekarang, ya?”

“Iya buka aja. Semoga kamu suka, ya. Tapi ya cuma itu aku bisa kasihnya. Eh enggak ding. Tapi buka aja itu dulu.” ucap gue.

“Waaaaahh.. Kamu kok tau aku lagi pengen sepatu ini? Aaaaaakkkk seneng banget. Terima….”

“Aku tau dari mereka. Suami dan anak kamu.” seraya menunjuk seseorang yang berdiri sambil menggendong seorang anak, tepat di belakang Putri.

Tamat

Pict by : Twitter 

Iklan

Mak Comblang Jatuh Cinta

00:07am saya memulai ketikan ini dengan perasaan cukup senang. Sebab follower twitter saya genap menginjak angka 25ribu. Sebelumnya saya memiliki target angka ini harus saya raih sampai batas waktu akhir tahun ini. Dan terima kasih banyak untuk kalian yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memfollow saya. Terima kasih banyak! Supaya tidak terlalu banyak membuang waktu, baiknya mari saya mulai bercerita saja.

============================

“May! Hari ini giliran gue, kan?” ucap seseorang kepada gadis bernama Maya, seorang murid kelas dua SMA dengan paras cantik dan rambut panjang serta matanyanya berwarna coklat. Ia dijuluki Mak Comblang di sekolah itu. Familiar dengan kata Mak Comblang? Iya benar. Mak Comblang adalah, perantara yang menghubungkan atau mempertemukan dua sejoli hingga menjadi sepasang kekasih. Umumnya julukan ini diberikan kepada mereka yang berhasil mempertemukan jodoh sepasang suami istri. Tapi di era sekarang julukan itu sedikit mengalami pergeseran maksud, meskipun tujuannya sama. Dan hari itu, untuk kesekian kalinya, Maya memiliki tugas untuk menjodohkan dua sejoli. 

Hari itu adalah giliran Ajeng, perempuan dengan perawakan yang tak berbeda jauh seperti maya. Hanya saja Ajeng memiliki bulu mata lebih lentik dan sedikit lebih ekspresif.

“Iya hari ini giliran lu. Udah siap? Bentar lagi Adrian dateng soalnya.” ucap Maya kepada Ajeng.

Ajeng sedikit gugup dan panik “Aduh aduh, Adrian yang kelas 2 C itu? Ganteng lagi. Gue udah cakep belum? Kurang apa, May? Rambut udah rapih, kan? Aduuuuhh May jawab. Kurang apa ini gue?” 

Maya tak menggubris tingkah Ajeng. Dilihatnya Adrian sudah mulai mendekat ke arah mereka berdiri. “Kurang tenang. Tuh Adrian udah deket. Siap atau nggak, lu harus hadapi.”

Tak lama setelah sampai di hadapan kedua gadis manis itu, Adrian menjulurkan tangan. Lalu Maya mulai memperkenalkan Ajeng kepada Adrian. “Dri, ini Ajeng. Jeng, ini Adri. Oiya sebelum gue tinggal, Dri jangan lupa yang udah gue kasih tau ke elu, ya.”

“Siap bos! Aman pokoknya. Oiya ini buat lu sebagai ucapan terimakasih gue.” Adrian menyodorkan sebatang coklat merk ternama. Kemudian diiringi pamit dari Maya.

Beberapa meter meninggalkan pasangan yang masih terlihat canggung itu, Maya menyempatkan diri untuk menoleh. Senyumnya terpapar manis sekali, sebahagia sedang dicintai. Setelah dilihatnya kondusif, Maya melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas. Seperti yang kita tau, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat penting. Dalam bentuk apapun, kebahagiaan adalah ukiran terbaik dari hidup yang bisa dicetak berulang. Dengan cara apapun, kebahagiaan adalah mutlak keinginan. Sebab kebahagiaan merupakan dasar dari setiap makhluk hidup dalam mengatur perasaannya. Begitupun yang dirasakan Maya pada saat itu. Kembali ia berbahagia sebab mampu menyatukan dua insan melalui olahan kata yang terucap dari bibir tipisnya. Hal itu serta merta menghadiahkan harinya perasaan senang. Perasaan senang tersebut turut dirasakan oleh teman sebangku sekaligus teman terdekatnya, Karin. Ia menghampirinya dan disambut oleh senyum dari temannya itu.

“Berhasil lagi?” ucap Karin yang berambut pendek itu.

Maya kemudian duduk tepat di sebelah karin dan berucap “Loh, anda masih meragukan Maya soal jodoh-jodohin orang?”

Karin hanya tersenyum lalu berucap “Percayaaa deh sama kedigdayaan Mbah Maya. Tapi mau sampe kapan nyariin buat orang lain mulu? Gue rasa udah saatnya lu nyari buat diri sendiri, May.”

“Yah Kariiiin.. Kenapa bahas itu lagi, sih? Kan gue udah bilang, kalo nanti gue mulai merasakan butuh, gue pasti nyari dan bilang ke elu. Sekarang ini gue masih ngerasa kalo ngebantu orang lain itu menyenangkan. Hehe”

“Iya gue tau, lumayan sering lu bilang hal ini ke gue. Tapi sampai detik ini, nggak ada tanda tanda lu bakalan jatuh cinta sama cowok. Hmmm atau jangan-jangan, lu naksirnya sama cewek, ya? Waaah siapa siapa? Sini bilang, nggak usah malu-malu. Hihihi” ucap karin meledek Maya.

Maya melebarkan matanya dan berucap “Hey Karno, nggak gitu dong mainnya. Tenang aja tenang gue masih aman kok. Poster poster Adam Lavine di kamar belum gue copot-copotin kok. Masih naksir tiap liat pria brewok yang papasan di Mall juga. Cuma emang belum nemu sreg sama yang disekitaran sekolah atau yang seumuran aja gitu. Jadi ya nggak bisa gue paksain, kan? Lagian kalo nanti gue jatuh cinta, client-client asmara gue siapa yang urus?”

Lalu keduanya tertawa bersamaan diiringi bel tanda masuk kembali ke jam pelajaran. Ya, membantu orang lain memanglah meyenangkan. Dan kesenangan orang yang kita bantu bisa menjelma menjadi kekuatan untuk kita melakukan hal baik berikutnya. Seperti kata orang bijak, bahwa bahagia lahir dari rasa syukur yang tak henti pada Pemilik kehidupan dan usaha untuk senantiasa berbagi apa yang kita bisa pada sesama. Itulah sebabnya kita bisa memilih untuk berbahagia setiap hari, setiap kali. Semua baik-baik saja selama kita bisa memilih bahagia. Hal itu pula yamg dijadikan landasan oleh Maya untuk selalu membantu orang lain dengan cara memperkenalkan mereka pada Phenylethamine.

Seminggu berlalu dari hari itu. Maya kembali berhasil menyandingkan pasangan baru dan namanya sudah semakin di kenal sebagai Mak Comblang sekolah. Bahkan terdengar hingga ke telinga beberapa guru yang mengajar di sekolah tersebut. Sebuah kebanggaan tersendiri untuk Maya yang ternyata direspon baik oleh para guru itu. Menurut mereka apa yang dilakukan Maya adalah merupakan sesuatu yang baik. Dari pada harus memberi ujaran kebencian, atau membentuk sebuah gank lalu kemudian menindas murid lain? Membagikan cinta adalah hal baik yang efeknya juga akan sangat baik bagi sekolah. Penuh kasih di setiap sudut sekolah. Penuh keromantisan di setiap jam istirahat sekolah. Serta penuh senyum di setiap jam pelajaran sebab nikmatnya dicintai. Fenomena seperti ini hanya tinggal diarahkan ke dalam konteks yang positif. Agar tetap terpacu semangat belajar dari para murid sekolah itu.

Bel jam istirahat berbunyi dan Karin mengatakan sesuatu kepada Maya. “Ditungguin sama Danny anak 2 B di warung ibuk. Hari ini lagi nggak ada pasien kan, mbah?”

“Hahaha Karnoooo, ih! Bentar, ini Danny yang anak ekskul musik itu? Bukannya dia punya pacar, ya? Mau apa dia nyariin gue?” balas Maya.

“Setau gue sih bukan pacar. Tapi tu cewe ngejar-ngejar Danny. Tapi nggak tau ding. Kalo yang gue tau itu bener ya rejeki lu, mbah. Siapa tau kan ini jawaban atas do’a lu selama ini. Ciyeeee Maya ciyeeeee. Hahahaha eh maaf, Mbah Maya.”

Maya menatap datar Karin seraya menaikkan alisnya sebelah. Kemudian ia beranjak dari kursinya dan bergegas meninggalkan temannya itu. “Uuuuhh Karno baweeeell. Dah ah gue temuin dulu, ya. Siapa tau job lagi.” dan berlalu sambil menncubit pipi Karin.

Dalam perjalanan menuju warung ibuk, Maya sempat terfikir apa yang diucapkan oleh Karin tadi. Ia kemudian menelisik siapa sosok Danny. Segala hal yang pernah ia ketahui di sekolah diingat-ingat betul. Kemudian ia membayangkan bagaimana jika ia menjalin kasih dengan Danny. Beberapa saat kemudian, ia kemudian menampik pikirannya sendiri “Enggak May Enggak! Lu nggak boleh jatuh cinta. Pokoknya nggak boleh.” ucapnya dalam hati.

Ia terus bergerak menuju warung ibuk dan mengamati sekitaran untuk mengalihkan pikirannya. Di setiap sudut ia melihat pasangan-pasangan sedang bersenda gurau dan melempar senyum. Hati kecilnya ikut tersenyum menyaksikan hal tersebut, namun kemudian pikirannya kembali terasuki oleh bayangan jika ia berpacaran layaknya orang-orang itu.

“May! Di sini hey.” teriak seorang laki-laki seraya melambaikan tangan.

Sosok tersebut tak lain tak bukan adalah Danny. Maya menoleh dan terpana. Dilihatnya sosok yamg melambaikan tangan itu adalah orang yang beberapa detik lalu ada di dalam pikirannya. Memadu kasih dengannya dan bertukar tawa dengannya. Tak lama berselang ia begitu terkejut ketika ternyata tangannya sudah diraih oleh sosok laki-laki itu dan menggandeng membawanya terduduk. Maya panik dan gugup di saat itu juga. Dalam ingantannya, ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tingkahnya menjadi sedikit canggung di hadapan Danny.

“May, lu nggak kenapa-kenapa, kan? Atau lu lagi nggak enak badan?” tanya Danny melihat kepanikan Maya.

Maya yang bertambah panik kemudian menjawab “Eehh.. Anu… Eng.. Enggak kok. Gue sehat. Hehe.. Cuma itu tadi kaget ada kucing bilang I love you. Hehe”

“Gokil. Nggak salah pilih agent nih gue. Orang kucing aja dicomblangin dan sukses, apalagi manusia. Keren lu, May.”

Suasana kaku yang dirasakan oleh Maya mulai mencair dengan perlakuan dan sambutan dari Danny yang cukup menghibur. Kemudian keduanya mengobrol panjang lebar seperti layaknya seorang penyedia jasa dan clientnya. Danny mulai menceritakan kisahnya, terutama yang banyak orang ketahui. Seperti ditampar oleh-oleh khas Bandung, Maya mendengar cerita dari Danny yang ternyata persis seperti ucapan Karin. Ia terdiam dan mulai tidak fokus. Pikirannya pada saat itu tertuju berulang kali pada ucapan Karin. Seperti sebuah kaset yang diputar pada radio tape, kemudian berulang kali terulang.

“Jadi gitu, May. Gimana? Bisa kan kenalin gue ke orang yang cocok? May. Maya.. Maaayy.. Haloooo.”

Maya terkejut dengan lambaian tangan Danny di wajahnya kemudian menjawab “Oh.. Iya iya.. Bisa. Kasih waktu gue 2 hari. Nanti gue cariin yang cocok. Kalo nggak ada ya gue aja. Eh anu itu maksudnya gue cariin lagi. Tapi yakin gue 2 hari pasti dapet yang cocok.”

Danny kemudian meraih tangan Maya dan menggenggamnya “Aduh May, terimakasih banget ya. Lu emang paten banget lah pokoknya. Gue tunggu 2 hari lagi, di tempat ini ya, May.”

Genggaman yang dirasakan Maya pada saat itu adalah genggaman yang berarti lain. Tampaknya benar, Maya merasakan jatuh cinta pada Danny. Tatapan matanya kepada Danny pun berubah. Dan beberapa saat Danny meninggalkan tempat tersebut, Maya masih merasakan genggaman tangan Danny terasa. Begitulah jatuh cinta, rasanya seperti sesuatu yang tak mampu diduga. Mengejutkan namun juga bisa direncanakan. Dalam hal ini, kejutan dari kebaikan yang telah dilakukan, mulai dirasakan oleh Maya. Sekembalinya ia ke kelas, kemudian ia menceritakan hal yang baru dialaminya kepada Karin.

“NAH KAN MBAH MAY. APA GUE BILANG. UDAH SIKAAAT. JANGAN KASIH KENDOR. hihihihi”

Maya tersenyum tersipu kemudian berucap “Nggak Rin, enggak! Pokoknya gue harus profesional. Dia client yang butuh jasa gue. Nah gue yakin nih pasti ada client pihak 2 yang juga butuh gue.”

“May dengerin gue baik-baik. Gue amat sangat seneng jadi temen lu yang super baik ini. Menolong banyak orang menemukan pasangannya. Tanpa meminta bayaran sedikitpun dan lu melakukan itu dengan ikhlas. Gue tau rasanya seneng ngebantu orang lain. Makanya kali ini ijinkan gue buat bantu lu. Elu nggak sekuat yang lu kira sampe menjadi kuat adalah pilihan terakhir lu. Paham kan maksud gue? Gue tau ada perasaan iri dari dalam diri lu ketika melihat orang lain berhasil lu pasangin. Keliatannya aja lu seneng menikmatinya. Udah lah, nggak usah pura pura lagi sama gue. Ini udah saatnya buat elu dan anggap elu adalah client buat diri lu sendiri. Karena sebelum bikin orang lain bahagi, ada baiknya lu bahagiakan diri lu sendiri dulu.”

Satu paragraf yang cukup baik terlontar dari bibir Karin. Namun agaknya belum mampu menggerakkan hati Maya untuk mengakui bahwa ia sebenarnya memang menginginkan posisi itu. Entah apa yang membuatnya menjadi takut untuk merealisasikan apa yang sempat ia bayangkan. Dan hari berlalu begitu saja pada saat itu tanpa kejelasan bahwa Maya juga ingin menjalin kasih. Egonya terlampau tinggi untuk mengucap ‘Iya gue jatuh cinta dengannya’. Dan sebagai seorang teman terdekat, Karin hanya mampu mendukung apa yang ingin dilakukan oleh Maya. 

Pagi hari cerah menandai hari itu adalah tenggat waktu yang Maya janjikan kepada Danny. Maya gusar sebab tak menemukan apa yang ia ucap kepada Danny. Sebelum masuk kelas ia meminta pendapat kepada Karin. Dan sekali lagi Karin memastikan bahwa benar, Maya jatuh cinta kepada Danny.

“Gue tau Mbah, sebenernya 2 hari ini elu nggak nyari siapa siapa karena lu pikir kalo lu sampe nemuin orang yang cocok buat Danny, maka kesempatan lu buat deket sama dia akan terbuang. Iya, kan?”

Maya tertunduk kemudian mengangguk perlahan.

“Yaampun Mayaaaaa, kenapa susah banget sih bilang iya aja? Kan nggak ada salahnya orang jatuh cinta. Seperti yang sering lu bilang, Indahnya jatuh cinta itu adalah keadaan yang nggak bisa ditolak. Maka ada baiknya kalo diamini saja. Lah, masa yang bikin kata-kata mengingkari kata-katanya. Gimana sih, mbah?”

Maya masih terdiam dan tak mampu berucap apa-apa. Di kepalanya pada saat itu yang tersaji hanya kesalahan dan kesalahan sebab ia merasakan jatuh cinta. Entah apa yang membuatnya menjadi sedemikian rupa. Namun agaknya hari itu benar-benar harus dilaluinya meski berat.

Kemudian ia menghela nafas panjang dan berucap “Emmm.. Oke. Kayaknya memang gue harus mengakui kalo gue memang seperti apa yang selama ini lu bilang. Jadi gue minta maaf karena belum berani jujur sama lu soal perasaan aneh ini. Jangan dipotong dulu. Hmmmmmhh jadi gini, nanti jam istirahat, temenin gue nemuin Danny. Gue mau lu jadi orang pertama yang menyaksikan kalo gue juga layak jadi client. Gue pengen elu jadi orang pertama yang bahagia ngeliat gue bahagia. Oke?”

“Sepakat! Nah gitu dong. Masa Mak Comblang takut jatuh cinta. Aneh banget kalaupun dijadiin frasa. Semangat ya Mbah Mayaaaaa.” kemudian keduanya berpelukan.

Terkadang memang teramat sulit mendeteksi kebenaran perasaan cinta. Bukan, bukan kemampuan kita yang terbatas, tapi biasanya kita yang membatasi perasaan kita sendiri. Dan kita tidak pernah sadar bahwa kita telah sejahat itu pada diri sendiri. 

Dan jam istirahat tiba. Kedua gadis itu berjalan beriringan menuju warung ibuk untuk menemui Danny. Perasaan gugup sudah menghantui Maya sedari tadi. Namun dengan adanya Karin di sebelahnya, perasaan kacau itu bisa teratasi. Sesampai di warung ibuk, mereka berdua melihat Danny sudah menunggu di salah satu meja. Kemudian mereka menghampiri dan duduk tepat dihadapan Danny.

“Gue pikir lu nggak akan dateng, May. Gue tadi mau nyamperin ke kelas lu.” ucap Danny.

“Iya tadi bolak balik kamar mandi dulu. Ada yang grogi soalnya.” celetuk Karin yang diiringi tolehan Maya.

Maya menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan perlahan “Eeeemmm jadi gini, Dan, gue nggak nemu sosok yang co….” 

Belum sempat melanjutkan pembicaraannya, Danny meraih tangan kemudian berucap “Iya May nggak apa apa. Gue juga memang nggak niat atau minat sama yang lain kok. Sedari awal gue minta tolong sama lu itu, karena memang gue suka banget sama Karin. Terimakasih ya udah bawa Karin ke hadapan gue. Gue mau nyatain cinta ke dia sekarang….” 

Tamat
Pict by Twitter 

Terima kasih

11.39am waktu bagian aroma terasi yang mamah goreng menyebar ke seluruh ruangan rumah. Pasti bentar lagi gue dipanggil ni supaya nyambel. Nah ka  bener..
============================= 

Intro macam apa barusan itu..

Eeeemm saya bingung harus memulai dari mana, tapi saya tau arah dan tujuan saya mau menulis apa. Sebab, terhitung dari Desember sampai beberapa menit yang lalu, saya menelantarkan platform ini. Bukan karena sibuk atau nggak sempat, tapi karena saya punya target. Apa targetnya? Nanti dulu, ya. Sabaaar..
Karena sudah hampir 8 bulan meninggalkan platform ini, tadinya saya punya niat untuk memperkenalkan ulang siapa diri saya. Seperti yang sudah dilakukan oleh idola saya, bang @shamposachet di blognya. Tapi rasanya saya kurang yakin orang ingin tau siapa saya. Jadilah saya urungkan niat tersebut. Saya mau langsung bilang TERIMA KASIH banyak, buat semua pihak yang berpengaruh atas tercapainya 15ribu followers di twitter saya. Kenapa harus dengan cara seperti ini? Ya gapapa, saya pengen aja. Terserah juga semisal ada yang mikir saya norak pun berlebihan. Saya tidak peduli.

Sejujurnya, saya sama sekali nggak nyangka bisa ada di level punya followers seperti sekarang. Saya sudah cukup lama punya akun twitter. Tau serunya juga udah lama. Cuma, tadinya saya nggak pernah tau apa faedah berkicau dengan konsep. Menurut saya, ngetwit mah ya ngetwit aja. Pergerakan timeline twitter itu cepet banget. Makanya mau ‘ngoceh’ berkali-kali pun nggak akan ada yang protes. Karena pasti akan cepet ketindih sama ocehan akun lain. Alasan dasar saya buat meng-unfaedahkan konten, juga bodo amat dengan jumlah follower. Yang saya tau, saya bisa dapet apapun yang saya pengen tau. Cerita dari orang yang saya kenal sampe nggak kenal. Berita yang bermanfaat sampe nggak sama sekali. Edukasi penting sampe yang konyol. Serta yang paling penting dari bermedia sosial, yaitu  meluaskan lingkup pergaulan. Itu pun sudah saya lakukan. Saya rasa, nggak ada lagi alasan saya harus mengerucutkan pandangan bahwa menjadi yang luar biasa di ranah twitter itu penting. Karena sejatinya, ya saya emang b aja sih.

Sampai suatu ketika, keadaan mengirim @rendyusanto dan @_bangky ke kehidupan saya di dunia pertwitteran. Bukan, mereka juga bukan sesuatu yang besar di platform itu, tapi menurut saya, mereka itu penting. Khususnya untuk saya. Bahkan awalnya, kami sama-sama datang ke media yang identik dengan warna biru itu sebagai penikmat ide. Ide para selebtwit dan para elite. Kami juga hanya tak sengaja terkumpul dalam sebuah grup bertajuk APAAN hanya karena persoalan sama dalam hal kegabutan. Tentu saja grup itu tak hanya berisi saya dan dua manusia itu. Ada beberapa nama yang tentunya cukup berpengaruh menjadikan saya seperti sekarang. Ada @fermendkis si pelantun sajak, kemudian @stywnyudha dengan jargon lantaran, juga beberapa orang lainnya yang maaf saya tidak bisa sebutkan satu persatu. Mungkin, kalo @gesgestay nggak ngebentuk grup itu, saya juga nggak akan kenal dengan Iky dan juga Rendi (pake y, bang) oh oke Rendiy.

Dari perjalanan kami yang hanya menikmati ide dari orang lain, beberapa mulai mencoba peruntungan untuk melantunkan ide mereka sendiri. Hasilnya, nama-nama yang saya sebut di atas tadi melesat jauh meninggalkan saya. Terkecuali Gesti yang memang memiliki followers jauh di atas kami semua. Sementara mereka mulai nyaman dengan ide mereka yang disenangi oleh orang lain, saya masih jadi penikmat. Belum terfikir sedikitpun utuk menggelar keinginan mencoba lebih baik dari pada mati penasaran. Faktor terbesar yang membuat saya demikian adalah, saya merasa bahwa saya tidak bisa lucu. Bahkan sampai saya menulis ini. Saya juga merasa bahwa berpuisi adalah kelemahan saya. Juga sampai detik ini. Kemudian kelemahan saya saat beropini, membuat saya tidak yakin kalo saya bisa memotivasi orang lain. Amat sangat tidak yakin. Jadilah alasan saya cuma menjadi penikmat ide orang lain. Minder adalah nama tengah Armin Deri.

Satu waktu saya berkumpul dengan Iky dan Rendiy (nga pake i, bang) oh oke Ky. Pada saat itu saya jauh tertinggal dari mereka perihal jumlah Follower. Saya masih menjadi penikmat ide orang lain. Mungkin beberapa kali mencoba mengekspresikan ide, tapi hasilnya nihil. Ini mengecilkan hati dan niat saya tentunya. Dugaan saya bahwa saya nggak lucu, saya nggak pinter dan saya nggak bisa melankolis ternyata bener. Kemudian kedua orang ini mengatakan kepada saya ‘Yaaaaah folowernya dikit. Maen twitter dah dari lama tapi nggak ada peningkatan.’ iya emang agak bedebah mereka ini. Tapi saya terima karena kenyataannya emang begitu. Kejadian itu kemudian jadi rutin mereka lakukan acap kali kita ngumpul. Bener kata orang-orang soal, ‘batu yang keras, kalo ketetesan air setiap hari pasti bakalan basah, pecah mah belum tentu.’ itu benar. Saya mulai terpengaruh untuk belajar meng-konsep cuitan saya. Perlahan tapi nggak pasti. Ya karena emang nggak ada perubahan juga. Saya masih dan terus tertinggal jauh. Saya pasrah..

Tepatnya 3 april lalu kepercayaan diri saya muncul setelah berhasil mendapatkan seribu ritwit untuk pertama kalinya. Sampe sekarang twitnya saya sematkan, buat sebagai tanda saya pernah berjuang. Saya pernah ada di bawah sebelum twit itu tercipta. Saya pernah merasakan bahwa kepuasan terhadap sesuatu adalah bukan hanya dari usaha, tapi bagaimana ketika saya bisa menyikapi support dari orang lain. Satu hal yang saya bisa berikan di sini, 

“KITA NGGAK AKAN PERNAH TAU SESEORANG ITU TEMAN ATAU BUKAN, SAMPAI IA BERMANFAAT UNTUK KITA” 

Dan saya merasakan hal tersebut dari mereka berdua. Mungkin secara kasat mata dicengin itu buruk konotasinya, tapi saya membedakan dengan konteks serta cara. Kalo kamu punya temen yang kerjaannya ngecengin doang tapi nggak ngebantu buat supaya kamu upgrade, jangan terlalu deket. Yang ada nanti kamu nggak akan pernah terlihat bisa di mata dia. Nah ini yang saya pelajari dari mereka berdua. Mereka emang ngeledekin saya tiap ketemu, tapi mereka juga ngasih solusi dan bahkan treatment supaya saya bisa mengekspresikan ide saya dalam bentuk twit. Pasti ada yang nyeletuk ‘Halaaah ngetwit doang aja lu lebay banget.’ pasti. Buat para pemain twitter khususnya mereka yang idenya selalu dinikmati orang banyak (bahkan kadang dicomot tanpa ijin), nggak mungkin mereka nggak mikirin harus mengkonsep twit mereka supaya lebih ‘kemakan’. Setipis apapun kelucuan, pasti ada terselip perencanaan. Apalagi yang memotivasi atau bersajak. Memilah kata demi kata, merangkai kalimat serta tanda baca, agar penikmat tau bahwa sajak bukanlah hanya tentang senja. Nggak mudah loh aslinya yang banyak orang pikir ‘yaelah ngetwit doang aja ribet’. 

Dari semenjak hari itu saya mulai serius menggarap ide ide meskin hanya bermodal diksi yang menurut saya lucu. Nggak semulus yang saya pikir ternyata. Tapi konsistensi nggak pernah bohong sama hasil sih. Saya mulai difollow oleh beberapa akun besar seperti bapak @daraprayoga kemudian @banyusadewa dan beberapa di antaranya. Kenapa 2 akun ini yang saya sebut? Nih ya saya kasih bocoran sedikit. Kalo kamu merasa bahwa kamu lucu atau bahkan sudah difollow sama mereka, keluarin semua yang kamu bisa. Mereka tidak sungkan untuk mengarahkan jempolnya ke tombol ritwit atau like. Itu membantu untuk pergerakan kamu di twitter. Atau kalo belum difollow, ya caper caper aja ngapapa. Tapi sewajarnya. Karena kalo emang mereka tertarik, mereka nggak akan nutup mata. Ya kan kalo nutup mata mah nggak bisa lihat, gimana bisa tau kalian menarik atau nggak. Xixixi

21 Juni 2018 mungkin bakalan saya inget terus. Karena di hari ini, seorang @makmummasjid mempromote beberapa akun untuk difollow. Akun saya masuk mesyenan beliau. Saya yakin bukan cuma saya yang ngerasain senang. Bahkan yang mungkin ngebayangin doang aja pasti seneng. Karena menurut saya, Renne itu orang yang cukup jarang, bahkan sepengetahuan saya dia hampir nggak pernah mempromote akun lain untuk difollow. Tapi setelah hari itu, saya tau alasan dia nggak pernah keliatan secara langsung mempromote. Ini menurut saya aja dan saya nggak bisa kasi tau kenapa. Intinya adalah peningkatan kepercayaan diri kita bakalan naik drastis paska dipromote beliau. Dan saya juga nggak mau melupakan teman teman yang membantu mempromote saya tiap ada pertanyaan ‘akun mana yang perlu gue follow, nih?’. Kalian luar biasa sekali.

Sekali lagi ini membuktikan bahwa tidak pernah ada yang sia-sia dari setiap hal yang kita lakukan. Kalo kamu merasa kurang yakin, kamu bukan harus berhenti, tapi cari dulu cambuk. Biar kamu tau rasanya berada di antara kamu tau apa yang kurang dan apa yang belebihan. Saya yang nggak lucu, nggak pinter, nggak melankolis aja bisa, masa kamu enggak. Dan 1 hal lagi yang perlu kamu tau. Mungkin kamu menganggap saya hanya lebih beruntung, tapi menurut saya, 

“Keberuntungan adalah pertemuan antara kesempatan dan kesiapan seseorang”

Maka persiapkanlah dirimu sebelum kesempatan itu datang. Wiiiiiiihhhh bacot sekali ya saya. Hahaha

Terima kasih banyak untuk semua nama yang akunnya saya sebutkan. Berkat kalian saya bisa berada sampai di tahap ini. Terimakasih, terimakasih dan terimalasih banyak juga untuk kalian yang telah memfollow saya dengan kerendahan hati. Padahal twit saya nirfaedah semua. Sekali lagi Terima Kasih! 

Mungkin cukup dulu buat intro mulai mengetik panjang saya lagi. Saya masih bingung harus membuat apa lagi di blog saya ini. Tapi untuk ke depannya, saya sudah menyiapkan beberapa ide cerita bersambung. Semoga saya bisa kembali istiqamah mengurusi platform ini lagi. 
Keep wahuy on the floor, yes! 

Manusia dan sisi kebinatangannya

0.11am waktu setempat. Ini nyari bahannya lama loh. Biar kesannya gue pro, padahal mah apaan! Tapi dibaca aja ya. Tolonglah~

=============================

Sesuai judulnya, kali ini gue akan mengangkat hal yang sedikit agak berat (menurut gue). Bukan karena maraknya isu dan kejadian penganiayaan terhadap binatang. Gue nggak semilitan itu membela keberadaan para binatang yang dianiaya oleh mereka-mereka yang mungkin kurang sadar pentingnya bersahabat dengan binatang. Hanya saja, gue pun tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan, dan cenderung mengutuk. Kelamaan kayaknya kalo gue bahas kenapa gue tidak senang. Sebab, kita sebagai manusia, harusnya punya rasa kasih yang lebih tinggi terhadap mereka yang memang terlihat lemah. Jadi nggak perlu panjang buat menjabarkan kalimat alasan untuk membela para binatang yang mendapatkan perlakuan tidak baik itu.

Lalu, apakah alasan gue membuat tulisan ini? Sepertinya agak sedikit sulit bikin bridging supaya enak dibaca. Tapi apalah daya, kemampuan gue cuma segini aja. Jadi mari kita langsung ke pokok permasalahan. Manusia sering disebut sebagai hewan yang tidak memiliki ekor. Ada istilah homo homini lupus atau manusia adalah serigala bagi sesamanya. Hanya saja gue lebih percaya dengan istilah homo homini socius yang artinya manusia adalah kawan bagi sesamanya. Yang membedakan manusia dan hewan hanyalah, berfikir. Bukan! Bukan berarti hewan tidak bisa berfikir. Cuma kalo menurut gue, hewan tidak se-cermat manusia dalam mengatur fikirannya. Mengapa demikian? Sebab jika mereka cermat, maka mereka tidak akan saling membunuh untuk bertahan hidup. Mereka bisa saja menguasai dunia jika mampu bersatu seperti kawanan Simpanse dalam sebuah film yang gue lupa judulnya dan males gugling juga. Oleh karena hal itu juga manusia menjadi yang paling tinggi derajatnya diantara makhluk lain di bumi ini. Berfikir!

Gue pernah punya frasa seperti ini “Anggap otak itu memiliki tulang, lalu kendalikan” 

Menurut gue semua hal yang bersinggungan dengan kita, itu bermula dari apa yang berbenturan langsung dengan seisi otak. Tempat manusia mengumpulkan segala hal. Dari yang penting, hingga konyol. Bahkan gerakan yang sedang kita lakukan saat ini, adalah bentuk refleksi dari otak yang secara tidak sengaja kita lakukan. Mengerutkan dahi dan menghela nafas juga bisa lu lakukan sekarang. Jika tidak percaya coba saja. Dan pilihannya adalah, kalo lu mengikuti apa yang tertulis barusan, maka sebenarnya gue sedang membuktikan bahwa fikiran lu mampu untuk dikendalikan. Kejutannya, seperti itulah binatang pada umumnya. Bahkan se-liar apapun binatang, ia akan tetap bisa untuk dikendalikan fikirannya. Meski harus dengan proses.

Bahkan dari awal aja nih, gue mungkin udah bisa membuktikan sisi kebinatangan manusia dengan cara itu. Dan frasa gue di atas itu menunjukkan bahwa jika manusia ingin berbeda dengan binatang, maka seharusnya manusia itu sendirilah yang harus mengendalikan otaknya untuk berfikir melakukan apa yang harus dilakukan.

Binatang dan saling membunuh untuk bertahan hidup. Manusia dan saling menjatuhkan untuk terlihat hidup. Binatang yang mampu bertahan hidup pada puncak tertinggi rantai makanan akan menjadi penguasa. Manusia yang mampu menjatuhkan banyak lawannya dalam berkompetisi di kehidupan, maka akan terlihat berkuasa. Adalah sisi kebinatangan manusia yang paling terlihat diantara sisi-sisi lainnya. Di kehidupan sehari-hari kita yang dekat dengan persaingan, hal tersebut bukanlah sesuatu yang tabu. Manusia adalah raja bagi dirinya sendiri. Kecenderungan atas sebuah keinginan untuk terlihat ‘wah’ yang terkadang membuat manusia melupa bahwa mereka bisa terlihat lebih buas dari seekor binatang. Bahkan tak jarang dari mereka yang tidak sedikitpun memikirkan dampak buruknya. Persis seperti spesies kucing besar ketika hendak berburu. Tidak peduli semua hewan akan menjauhinya sebab takut. Yang ada difikirannya hanyalah mendapatkan daging segar untuk dikonsumsi. Kesamaan sisi pada bidang kebuasan ini adalah bukti kedua bahwa manusia memiliki sisi kebinatangan. Bahkan bisa jauh lebih buas dari seekor binatang. Dan jika ditarik kesimpulannya, maka frasa gue cukup berguna lagi di dalam kasus ini.

Dalam teori evolusi Darwin (yang sampai saat ini sepertinya masih mejadi kontroversi), manusia dinyatakan berasal dari kera. Walaupun kita mungkin menolak teori evolusi, namun kita nggak bisa membantah banyak manusia yang berperilaku seperti kera. Mungkin juga kita. Nggak usah senyum-senyum. Inget aja beberapa hal yang sering kita lakukan dan lekat sekali dengan kera. Ciyeeee ada yang langsung ngaca buat ngebuktiin kalo teori Darwin salah ciyeeee.

Otak manusia memiliki tiga bagian yang berbeda tetapi merupakan satu kesatuan. Tiga bagian otak yang berbeda itu adalah otak reptil, sistem limbik atau otak emosi dan neokorteks atau otak berfikir. Kata bang Paul McLean sih ini mah. Tapi menurut gue cukup masuk akal sih. Eh bentar, Paul McLean ki sopo yo? Sik ya tak gugling..

Jadi Paul McLean adalah seorang dokter Amerika dan ahli saraf yang memberikan kontribusi signifikan di bidang fisiologi, psikiatri, dan penelitian otak melalui karyanya di Yale Medical School dan National Institute of Mental Health. Cukup ya?
Kenapa harus otak reptil namanya? Yo mbuh, takono dewe karo pakde Paul kui. Menurut doi lagi, kalo tanpa otak reptil, mungkin sebagian besar manusia berumur lebih pendek dari umurnya yang sekarang. Soalnya, otak yang membuat manusia segera lari atau bersembunyi pas denger auman harimau atau kilatan cahaya petir yang menyambar. Otak reptil adalah pusat instingtual semua makhluk. Manusia memang membutuhkan insting untuk keperluan penyelamatan diri dari bahaya. Jelas lah ya? Kalo nggak ada bagian otak itu, kayaknya nggak akan ada teori nyebrang jalan di zebracross. Nggak akan ada juga atraksi pura-pura nuntun motor kalo pas ketemu razia karena surat-surat berkendaranya nggak komplit. Hihihi

Manusia adalah gajah

Yang introvert adalah gajah jantan dan yang ekstrovert adalah gajah betina. Sifat lainnya adalah pemaaf yang sulit untuk melupa. Nggak jarang ya manusia kayak gini?

Gajah adalah hewan paling cerdas dan mudah untuk dijinakkan. Mampu mengingat bahkan hingga dua puluh lima hal yang pernah diajarkan atau terjadi kepadanya. Bedanya, mungkin manusia bisa mengingat lebih dari jumlah itu. Menurut Mowgli, gajah adalah penjelajah yang menciptakan hutan. Manusia pun banyak yang menjelajah dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sisi ini mungkin bisa jadi hal terbaik jika semua manusia yang menciptakan sesuatu untuk kepentingan sesamanya. Namun kebuasan manusia, lagi-lagi menuntun manusia bertindak jauh lebih mengerikan dibanding apapun saat mampu menciptakan sesuatu. Beruntungnya saat ini perang tak lagi menjadi trending topik, ya. Hmm

Sekarang gue bingung harus mengakhiri ini kayak gimana. Karena sisi kebinatangan manusia itu terlalu banyak. Dan inti dari apa yang gue ketik ini adalah bagaimana supaya kita mampu mengenali diri kita sendiri. Kita tidaklah sempurna meski ada pada derajat tertinggi sebagai makhluk hidup. Bahkan mengenai perilaku, mungkin kita bisa mencontoh sifat-sifat binatang. Anjing yang amat sangat setia, lebah yang amat sangat bermanfaat bagi mangsanya, semut yang jiwa sosialnya tinggi dan mungkin cheetah yang sangat cepat dan tepat dalam melakukan pekerjaannya atau Laba-laba si pendiam dengan karya yang menakjubkan. Terserah lu pilih yang mana. Lalu apakah sisi kebinatangan manusia itu buruk? Menurut gue tidak selalu. Tergantung elu mau mendeskripsikan seperti binatang apa elu ini. Tapi bukan mendeskripsikan sesuai kemauan lu. Coba deskripsikan dengan yang sudah elu jalani sampai seusia ini. 

Dan gue mau mengutip apa yang David Goleman (Psikolog) pernah bilang, 


“Emosi itu sangat menentukan kebahagiaan dan penderitaan manusia. Emosi juga melindungi manusia terhadap bebagai bahaya. Emosi adalah hasil perkembangan evolusi manusia yang paling lama, dan emosi terpusat pada salah satu bagian otak manusia di bawah sistem yang sudah berkembang dalam evolusi semenjak evolusi mamalia terjadi.”


Jadi pada intinya adalah manusia adalah binatang yang paling sempurna! Kita bukan hanya dekat dengan binatang, tapi lekat.

Terimakasih..

Makhluk Pengagung Standard

2.47pm nulis lagi aja dari pada nggak tau mesti ngapain juga. Rada sedikit aneh menurut gue, karena gue refreshing dari nulis dengan nulis. Tapi nggak apa-apa, yg penting refreshing. Oiya, gue sedang mempersiapkan cerbung baru. Gue nggak tau yg kemarin itu sukses atau nggak, tapi menurut gue lumayan ada respon dari beberapa yg baca lah. Semoga yg baru nanti jauh lebih narik minat baca. Makanya kalian baca, yah.. Ehe

=============================

Siapa yang pantas, yang bisa kuandalkan?

Bukan rayuan, bukan pujian.

Yang aku butuhkan CINTA APA ADANYA.

Aku pilih.. Tirai nomor 2

Sayup-sayup terdengar reff lagu dari Band Domino tadi seperti dibajak oleh seseorang yang sedang mengikuti kuis super deal 2 milyar. By the way, duit 2 milyar itu kalo dibeliin motor astrea legenda, bisa dapet se-parkiran alfamart depan lapangan tembak. Eh nggak ding, duit 2 milyar itu menurut gue masih hoax. Soalnya gue belum pernah punya. Gue ngeliat seratus ribuan 20 lembar ditumpuk aja udah nyangka klo itu mitos. Apalagi yang 20 lembar tadi bertumpuk dan bertumpuk hingga memenuhi lemari. Gue bisa anggap surga udah itu. Hahaha

Tapi titik permasalahan bukan di situ, tapi [klik di sini]. Masih diklik juga? Dasar lu ya, mudah banget tertipu hoax. Hih!

Di kalimat lagu tadi, ada yang gue tulis dengan huruf besar dan tebal sebagai bentuk penandaan gue sebab apa yang ingin gue tulis dan post hari ini. Eh nggak ding, ini ngepostnya nggak tau kapan. Soalnya kan refreshingan dari nge-draft cerbung aja. Tapi ini kayaknya terlalu bertele-tele deh. Oke langsung aja ke pokok permasalahan. Ingat, yang gue tulis tebal!

Entah kenapa kalimat itu seperti meracuni banyak orang supaya beranggapan kalo itu keren. Padahal kenyataannya tidak ada yang benar-benar demikian. Cinta apa adanya, ini bisa dikondisikan seperti semacem kalimat pesimis. Kenapa gue bilang demikian? Ya, karena elu adalah orang yang nggak mau upgrade apa yang lu punya saat ini. Padahal sesuatu yang bernyawa itu kodratnya bertumbuh. Dan kesempatan untuk meningkatkan diri itu selalu ada. Makanya, kalo elu masih berpegang teguh sama kalimat cinta apa adanya atau bahkan cintai aku apa adanya, elu sedang mengkerdilkan kesempatan yang dikasih sama waktu.

Cinta apa adanya itu juga omong kosong penyegar batin sesaat aja. Mungkin elu pernah menerima seseorang dengan dalil tersebut dalam konteks menjalin hubungan asmara. Kalimatnya biasanya gini, ‘Iya, aku terima/suka kamu yang apa adanya gini, kok’. Gue akan bisa terima ini sebagai dalil yang sah, ketika yang lu terima adalah anak sultan terkaya di dunia dan nggak pernah melakukan kesalahan serta tidak memiliki sisi buruk meski hanya sekedar kebiasaan. Semua orang punya standard di hidupnya. Buat cewek-cewek pasti nggak akan mau juga kan ngejalin hubungan sama yang pengangguran dan males kerja? Meskipun lu terima dia, pasti lu pengen dia kerja dan terlihat sedikit bertumbuh segi sosial dan materinya. Begitu juga cowok-cowok, sekurang kurangnya lu terima cewek lu dalam hal dandan, pasti elu pengen dan komentar dia akan cantik kalau…..

Sederhananya, kita ini makhluk pengagung standard. Apa yang kita miliki saat ini adalah cerminan apa yang akan kita ingin raih. Contohnya, elu punya gaji, akhirnya elu kredit motor. Setelah kreditan motor lunas dan motor itu sudah sepenuhnya resmi milik elu, maka akan ada hal yang lebih besar yang ingin lu raih dari gaji lu tersebut. Itu namanya penetapan standard. Meskipun nggak banyak juga yang gagal meraih apa yang ditargetkan itu, tapi dengan menetapkan tujuan lu, elu udah nggak bisa bilang elu adalah makhluk apa adanya. Atau mau dipermudah lagi bahasanya? Oke.

Apakah dalam menjalin hubungan asmara elu bisa biasa saja melihat pasangan lu dilecehkan? Oke terlalu ekstrim mungkin kalo lecehkan, kita ganti dengan kalimat bahan olok-olokan. Elu tidak se-sayang itu kepada pasangan lu jika elu baik-baik saja ketika berada dalam kondisi demikian. Paling nggak, elu pasti punya keinginan buat supaya pasangan lu tidak diperlakukan demikian. Hal yang cukup lumrah, hadir dari kepedulian yang memunjung sebab elu menyayangi dia. Se-cuek apapun elu, pasti pernah meminta pasangan lu merubah yang menurut lu kurang pantas untuk dia.

Sekarang kondisi makin sulit buat lu yang masih berpedoman dengan kalimat itu. Karena gue akan lanjut mendeskripsikan bentuk manusia yang selalu ingin maju. Otak manusia didesign untuk mengingat sebagai bahan dasar mencipta. Elu yang hari ini bukan elu 2 tahun silam. Mungkin kalo lu terima apa adanya diri lu, 2 tahun lalu elu masih goleran di rumah tanpa melakukan apapun kecuali hal itu, hari ini pun lu nggak akan mengubah hal itu dan tetap kemudian mati busuk bersama kesedihan nggak punya duit dan teman yang bisa setidaknya bikin lu tersenyum dari candaannya. Konteksnya malas ya, bukan karena sebab lain.

Jelas kan? Diri kita sendiri aja nggak mau nerima kita apa adanya. Ya masa kita mau paksa orang lain buat terima kita apa adanya? Nggak fair, cuy. Teori kehidupan maju ini, sedikit lebih mengarah ke gimana elu membedah logika lu sendiri. Lebih gampangnya gini, elu sama pacar lu pacaran dari SMA kelas 2. Kalo sekarang pacar lu udah kerja dan lulus kuliah sementara elu masih di kelas 2 SMA aja, ada kemungkinan nggak pacar lu itu meninggalkan elu karena elu nggak mau meningkatkan kualitas belajar lu supaya naik kelas? Atau, masa iya sih pacar lu nggak mau ngebantu lu buat supaya elu lebih pinter dan bisa naik kelas? Balik ke frasa awal yang tadi gue buat, manusia itu makhluk pengagung standard. Elu mau meningkat supaya jadi target raihan pasangan lu, atau lu mau tetap mengagungkan kalimat apa adanya milik lu?

Gue pemegang teguh kalimat “Melihara gagak, nggak usah berharap bisa berubah jadi merpati”. Kalimat itu ada benarnya memang. Kita nggak bisa rubah seseorang sesuai kemauan kita seutuhnya. Tapi observasi gue nggak berhenti sampe di situ. Gagak itu hewan yang cerdas, meski perawakannya menyeramkan. Oleh karena itu, peliharalah gagakmu tanpa berharap jadi merpati, tapi latihlah dia untuk setidaknya terlihat baik dengan kecerdasan yang gagakmu miliki.

Dan gue juga selalu percaya “Kita bisa ajak kerbau untuk pergi ke sungai, tapi kita nggak bisa paksa dia untuk minum”. Kalo dari di ajak aja dia udah nggak mau, apakah lu akan geret-geret paksa dia? Kalo gue sih lebih milih untuk ninggalin itu kerbau dan pergi ke sungai menikmati sejuk airnya. Sendirian? Nggak masalah kalo nyatanya gue jadi lebih bisa bijak sama diri gue sendiri. Itu prinsip!

Akhir kalimat dari setiap tulisan itu biasanya motivasi dan notulen dari apa yang udah diketik. Tapi kalo gue nggak tau kenapa nggak bisa begitu. Gue ngerasa apa yang sudah gue tulis itu kayaknya cukup jelas dan nggak perlu ada penjabaran lagi. Cuma kalo ngomongin CINTA APA ADANYA, menurut kata pilihan gue adalah sama dengan Tai Banteng! Emang lu aja yang nggak mau dikritik dan nggak mau berubah. Padahal cinta, tapi nggak percaya kalo tujuan pasangannya ngerubah itu buat kebaikan dia juga. Egois boleh, tapi mbok ya dikasih vitamin, biar nggak ngerugiin diri sendiri juga.

Akhiratul kalam

Bersahabatlah dengan pikiran terburukmu, maka kamu akan mengenal lahirnya kebaikan.

Pic : Nemu di Twitter

Remah-remah kegagalan

7.15pm ini kembalinya random gue pasca serius garap cerbung. Sedikit kenakalan pikiran gue aja sih. Semoga tertuang dengan baik juga, ya. Yuk baca.. 

==============================

“Antek PKI!” teriak salah satu orang yg nggak tau apa motivasinya. “Non muslim!” isu lain yg berkembang pesat. “Pribumi” oh ini Januari sampe Desember nggak boleh ada, soalnya mereka bulan. Begitupun dengan Aries, Sagitarius, Aquarius, paha mulus, hipopotamus dan nama nama rasi bintang lainnya, yg kemungkinan besar letaknya bukan di bumi. Tapi, gue bukan mau bahas itu. Buat intro aja, biar kesannya gue peka sama hal yg lagi happening di seluruh penjuru. Penjuru apa nih? Jeruji penjuru, bang. Bacot!

Bukan ranah gue untuk membahas hal yg sedemikian rupa. Soalnya gue mikirin buat tetep konsisten rokokan Marlboro Black Menthol aja sulit. Delapan ribu bisa dapet filter separo, dan dengan filter separo gue bisa ngerokok dua hari. Jadi, kayaknya kejauhan kalo gue ikutan ngebahas hal-hal demikian. Sepakat ya? Harus dong! Biar gue bisa cepet mengalihkan ketikan gue ini ke tujuan utama. Jadi gini.. 

Eeeeemmmmm..

Nama ilmiah dari rasa takut untuk dibanggakan itu apa, sih? Sampe gue gugling juga nggak nemu istilahnya. Nah gue sudah sejak sekian lama bermasalah dengan hal itu. Tepatnya mungkin pas mulai masuk SMA. Serius, gue takut banget buat dibanggain. Takut buat dipuji dan takut buat dirasa kalo gue bisa. Memang nggak keliatan karena gue tutupin dengan narsisisme. Aneh, ya? Orang takut buat dipuji tapi maksa narsis. Ya kalo nggak gitu, nggak akan jadi masalah besar yg bisa gue ketik kayak sekarang. Seandainya, rasa takut itu gue nggak lawan, mungkin blog ini nggak akan pernah ada. Bahkan foto-foto gue di instagram dan cuitan gue di twitter nggak akan pernah muncul. Tapi, dengan semua hal yg udah gue lakukan itu, gue tetap nggak bisa menghilangkan rasa takut itu. Contoh kecil, cerbung gue kemarin dapet beberapa apresiasi dari yg membaca, seharusnya gue pede dong? Nggak bisa. Justru dari setiap episode yg gue apload jadi gue pikirin banget. Beban? Mungkin. Karena menurut gue ekspektasi mereka tentang apa yg akan gue buat selanjutnya itu pressure. Padahal mah kan bisa ya tetep b aja. Ya, life memang gitu. Kadang jadi ribet sama apa yg kita rasa sendiri. Padahal belum tentu bener begitu.
Oke gue ceritain sedikit kenapa gue bisa mendapati problematika seperti demikian. Berawal dari prestasi yg gue bawa dari sekolah di kampung. Gue datang ke Jakarta dengan modal Rangking satu yg gue dapet dari sekolah di Salatiga. Di awal blog ini gue pernah ceritain kenapa gue bisa sekolah di sana. Orang tua gue dengan kebanggaan penuh membawa gue balik ke Jakarta karena hal itu. Seperti orang tua pada umumnya sih, anaknya berprestasi ya mereka banggain ke siapapun. Apalagi rangking satu ya kan? Semasa itu gue masih senang dibanggakan. Bahkan banyak temen yg menaruh harapan untuk isian ulangannya ke gue. Gue menikmati banget tapi nggak jadi sombong. Tetep sok saling membutuhkan aja.

Ekspektasi tinggi karena kebanggan mereka, utamanya orang tua gue, akhirnya gue kecewakan. Tahun pertama gue sekolah di Jakarta nilai gue cukup menurun. Dari tiga caturwulan, gue hanya dapet peringkat lima untuk yg tertinggi. Meski nggak keluar dari zona sepuluh besar, buat gue itu penurunan jelas. Dan itu berlanjut sampai kelas enam, tahun kelulusan dan persiapan masuk SMP. Bahkan waktu itu gue hanya mampu sampai di peringkat sepuluh. Amat sangat mengecewakan, kan? Oiya, di selang waktu yg cukup lama itu ada hal lain yg mengecewakan kebanggaan lainnya. Gue lupa kelas berapa, tapi gue inget kalo tahun sebelumnya gue ikutan lomba Adzan dan juara. Guru agama gue bangga dan di tahun berikut, gue mengecewakan karena justru menyentuh posisi ke lima aja enggak. Hahaha

Selanjutnya pendaftaran masuk SMP yg pada waktu itu ditentukan dengan nilai minimal. Gambarannya gini, jadi murid dikasih tiga pilihan sekolah Negeri. Pilihan itu yg menentukan murid sendiri. Bayang-bayang dari beberapa guru yg meyakinkan gue untuk bisa masuk ke sekolah favorit, gue kecewakan juga. Bahkan orang tua gue yg bangga karena dorongan para guru itu gue kecewakan juga. Nilai gue hanya menyentuh di sekolah pilihan terakhir, itu pun di peringkat yg jauh dari kebanggaan ke gue itu muncul. Benih-benih rasa takut untuk dibanggakan mulai muncul. Beberapa kekecewaan yg terjadi bikin gue makin takut. Bahkan ekspektasi semua orang yg kenal gue untuk bisa masuk SMA negeri, gue kecewakan juga. Parah ya..

Dan semenjak itulah gue amat sangat takut mendengar kebanggaan yg ditujukan ke gue. Gue takut bikin mereka berekspektasi tinggi dan akhirnya justru gue kecewakan dengan kegagalan.

Beberapa tahun lalu pun gue pernah mengecewakan seseorang sebab membanggakan gue. Dia bercerita tentang hebatnya gue ke orang tuanya, tapi justru bukan gue yg dijadikan pilihan oleh orang tuanya dia. Dan rasa takut untuk dibanggakan itu makin menguat setelah akhirnya dia milih apa yg orang tuanya pilihin untuk dia. Secara logika, gue menyebut ini kekecewaan terbesar seseorang karena dia membanggakan gue dan gue nggak bisa menjawab kebanggaannya. Meski sepenuhnya bukan salah gue, tapi gue merasa seandainya gue nggak memaksa diri untuk tetap berada di jalur kebanggaannya dia, mungkin rasanya nggak akan se-pahit itu.

Di dunia kerja pun gue pernah melakukan kekecewaan. Gue yg digadang-gadang bisa jd kepala sebuah tim, justru gagal cuma karena kalah sama ‘kejahilan’ senioritas. Sebelumnya, ada proyek besar yg berhasil gue menangkan bersama tim sehingga bisa dibanggakan sama pimpinan. 

Dan yg terpenting adalah dibanggakannya gue sama orang tua gue karena gue adalah anak pertama mereka. Tapi yg terjadi, sampai detik ini, gue belum bisa memberikan sesuatu yg selayaknya bisa dibanggakan sama mereka. Nah bagian ini boleh deh ni mellow mellow gitu. Biar terkesan elu menjiwai gitu bacanya. 

Ketakutan untuk dibanggakan ini juga nggak berasal dari diri gue sendiri. Dari beberapa cerita teman juga menguatkan. Tapi sejauh ini kalian mikir kalo gue cuma takut gagal aja, nggak? Beda loh soalnya. Gue nggak pernah takut gagal, karena itu pelajaran berharga menurut gue. Yg gue takutkan itu apa yg orang lain pikir telah gue janjikan sebab apa yg gue tampilkan sebelumnya. Paham ya?

Untuk orang yg nggak dikenal sih mungkin b aja. Tapi kebanyakan yg bangga sama kita ya orang-orang terdekat dengan kita. Jadi kemungkinan terbesar melihat atau membayangkan raut muka kecewa mereka jauh lebih besar. Mereka bisa bilang nggak apa-apa, tapi siapa yg tau isi hati manusia. Contoh, ketika lu dikecewain sama mungkin sahabat yg lu bangga-banggakan, kemudian lu bilang nggak apa-apa, tapi dalam hati lu pasti kecewa banget banget banget. Nah begitupun mereka ke elu.

Pernah suatu ketika temen cerita tentang perceraiannya. Padahal gue tau pas pacaran dia ini amat sangat membanggakan sang kekasih. Apapun dia ceritakan dalam bentuk rasa bangganya seolah kekasihnya itu pilihan tepat buat dia. Gue yg ikut bangga pada saat itu, jadi ikut kecewa setelah denger dia ditinggal sama kekasihnya beberapa bulan setelah menikah. Pahit..

Kebanggaan yg lagi lagi dikecewakan. Dan ini makin merusak pikiran gue. Apakah gue layak untuk dibanggakan sekarang ini? Kalo iya gue bisa dibanggakan, apakah gue bisa konsisten? Sedangkan sama rokok aja gue nggak bisa konsisten, kan?

Bayangan kalo dibanggain harus bayar lunas itu juga menakut-nakuti gue. Buat gue nulis kayak gini itu solusi. Karena mungkin, yg membaca adalah mereka yg nggak kenal gue dekat. Anggota keluarga gue juga kayaknya nggak ada yg tau gue punya blog. Makin kesini kok gue malah bingung ya harus ngelanjutin gimana. Apa gue udahin aja? Iya aja kayaknya. 

Pertanyaan gue, apakah elu juga pernah mengalami hal yg seperti gue tulis di atas? Ketika orang lain menaruh harapan ke elu dan elu mengecewakannya. Kalopun pernah, semoga elu nggak sampe setakut gue untuk dibanggakan.

“Hiduplah dalam dunia di mana elu bisa merasakan damai meski rasa takut menggelayuti pikiran lu.”

Terimakasih untuk atensinya..

Hari ke 13 (13): Akhir

0.33am ngetiknya seneng karena bisa sampe akhir gini. Tapi sedih juga harus berakhir episodenya. Ini termasuk fiksi terbaik yang pernah gue jadiin. Jadi, jangan bosen baca yaaah.. 

==============================

Sadath perlahan merasa ada cahaya masuk ke dalam matanya. Kelopaknya perlahan ia buka dan buramnya keadaan sekelilingnya melihat mulai nampak jelas. Belum berani berucap apapun sebab masih dalam kondisi yang membingungkan. Baginya, pada saat itu ada sesuatu yang sangat perlu untuk dijelaskan kepadanya. Tatapannya mulai tertuju pada sesosok yang tampak seperti sedang fokus pada sesuatu. Ia mencoba bangkit dari rebahnya untuk sedikit membuat pandangannya menjadi lebih jelas. Sosok yang sedang fokus membaca sebuah buku itu terkejut dan kemudian meletakkan buku seraya membantunya untuk bangkit.

“Gue di mana ini? Kenapa gue lemes banget, ya?” ucap Sadath kepada sosok yang ternyata adalah Iko.

Setelah memastikan semuanya terkendali, Iko berucap “Enggak, lu nggak kenapa-kenapa. Minum dulu nih.” seraya menyodorkan segelas air.

Masih merasakan berat pada bagian kepalanya, Sadath mencoba membuat dirinya se-tenang mungkin. Perlahan kesadarannya kembali dan ia pun mulai ingat segala hal yang telah terjadi. Meskipun begitu, terlihat bahwa Iko masih sangat khawatir dengan keadaannya. Beberapa kali pertanyaan yang dilontarkan olehnya, hanya mendapatkan jawaban ‘tenangkan dirimu dulu’. Hal itu membuat Sadath merasa bingung dan penasaran. Perasaan seperti sedang terjadi sesuatu pada dirinya, makin kuat ia rasakan.

“Gue udah baik-baik aja kok. Udah deh jangan bikin gue bingung gini. Ada apa sih?” tanya Sadath penasaran.

Iko terdiam dan menatap serius sahabatnya. Memastikan semuanya telah kembali normal. Melihat tingkah sahabatnya seperti itu, Sadath justru makin bertanya-tanya. Dilihatnya sekeliling yang ternyata adalah kamarnya sendiri. Kemudian seragam sekolah yang masih dikenakan oleh sahabatnya, membentuk satu opini bahwa ada yang sedang tidak beres denhan dirinya. Dalam suasana diam itu, ia kemudian mengarahkan pandangan pada buku yang berada tepat di hadapan Iko. Setengah terkejut ia ketika mendapati bahwa itu adalah buku harian miliknya. 

“Eh ini kok bisa ada di sini? Lu dapet dari mana?” pertanyaan yang terlontar sebab dirinya merasa bahwa ia tak pernah mengizinkan siapapun menyentuh buku itu.

Iko kemudian mengambil buku itu dan berucap “Elu tadi pingsan karena dikerjain sama Alex dan temen-temennya. Gue nggak tau lu diapain bisa sampe pingsan gitu karena gue menemukan lu udah dalam keadaan begitu. Gue temuin buku ini juga ada di deket lu jadi gue bawa pulang sekalian bareng nganterin lu.”

Sadath terkejut mendengar penjelasan sahabatnya itu. Ia mengernyitkan alisnya dan mencipta mimik mengingat sesuatu. Kemudian ia berucap “Alex? Gue mana berani sama dia. Kok bisa-bisanya gue intens dikerjain sampe pingsan gini?” 

“Tapi buku ini berani. Semua yang lu tulis ini kalo Alex baca pun pasti kesel. Dan seinget gue beberapa hari ini lu emang agak beda sih. Seperti dikuasai obsesi buat bisa ngalahin Alex. Dan pingsan lu hari ini menurut beberapa temen yang tau, itu karena sebelumnya emang lu nantang Alex.”

Makin terkejut Sadath mendengar apa yang diucapkan sahabatnya itu. Namun ia merasa memang benar apa yang dikatakan oleh Iko bahwa semua yang ia tulis dalam buku itu adalah harapan serta khayalnya untuk bisa melampaui Alex. Meski demikian ia masih mengingat betul proses yang mampu membawanya berani menantang Alex. Di dalam buku itu ia menulis begitu banyak harap untuk menjadi sesuatu yang berbeda. Hal itulah yang menghipnotisnya menjadi seolah bahwa ia berani dan mampu mengalahkan Alex. Dan oleh sebab itu, kemudian ia sering terjebak pada ingatan lain. Ingatan yang membuatnya merasa jauh lebih baik dari keaslian. Harapan besar untuk bisa dianggap juga telah meracuni semua kesadarannya beberapa hari ini.

Setelah berhasil mengingat seluaruh hal yang telah ia lakukan, ia hanya terdiam. Iko yang tak sanggup melihat sahabatnya dalam keadaan demikian kemudian mencoba menenangkan. Diambilnya beberapa kesimpulan untuk mengembalikan mood sahabatnya itu. Memotivasi bahwa dengan keadaan yang seperti itu, ia takkan pernah meninggalkannya. Sadath juga menjelaskan seluruh keinginannya untuk bisa menjadi normal seperti yang lain. Dianggap ada, dan tidak disepelekan. Dan sebagai sahabat yang baik, Iko mendukung apa yang diinginkan oleh Sadath.

Suasana mulai mencair dan canda canda kecil mulai keluar dari persembunyiannya di dalam situasi menegangkan.

Sadath bertanya kepada Iko “Berarti gue pingsan belum begitu lama, ya?” 

“Iya, tapi beberapa kali elu nyebut nama Renata. Alex juga sih lumayan sering. Cuma kalo Alex kan gue udah tau alasannya, nah Renata ini siapa?”

“Renata yang ngasih buku itu. Buku yang gue coret-coret itu. Masa lu nggak tau? Anak sebelas A.” jawab Sadath. 

Iko terperangah mendengar jawaban Sadath. Pasalnya ia tak pernah tau ada murid di sekolah yang bernama Renata. Dari sekian banyak nama murid di sekolah, untuk pertama kalinya ini Iko mendengar nama Renata. Ia mencoba mengingat betul semua murid yang mungkin terlupa olehnya.

“Tunggu, Renata sebelas A? Seinget gue nggak ada yang namanya ini deh. Kita anak kelas 11 juga, jadi mustahil kalo kita sampe nggak saling tau.” terang Iko. 

Sadath menjelaskan “Ada.. Gue ketemu dia kok pas dikonciin di ruangan kosong sama Alex waktu itu. Cerita banyak ke dia, terus dia kasih buku ini buat biar gue gampang nulis keluh kesah gue.”

Iko kemudian memperhatikan buku itu lagi sambil terus mengingat semua murid yang ada di sekolah itu. Sejenak membuka lembar demi lembar dan berucap “Oiya, ini kenapa halaman terakhirnya susah buat dibuka ya? Nempel gitu. Padahal isinya juga cuma beberapa lembar doang sih. Tapi kelihatannya tebel banget.”

“Lu liat deh baik-baik, itu ada bercak darah kayaknya. Nah itu yang bikin halaman terakhir nempel.” terang Sadath. 

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Iko kemudian teringat sebuah cerita yang sudah cukup beredar di sekolah itu. Seorang murid perempuan yang berprestasi ditemukan tak bernyawa di dalam ruangan itu. Beberapa cerita menyebutkan bahwa gadis itu bunuh diri sebab patah hati. Namun ada cerita lain yang menyebutkan bahwa gadis itu ditewaskan oleh temannya yang iri karena prestasi yang ia miliki. Kemuadian ia menyimpulkan bahwa memang ada yang tak beres dengan buku itu. Ditelitinya lagi perlahan lembar demi lembar.

“Nah gue dapet nih. Tapi kok rada ngeri, ya?” ucap Iko kepada Sadath.

“Dapet apaan? Gue bingung deh sama lu. Dari tadi aneh mulu.”

Iko menyerahkan buku itu dan menceritakan kisah perempuan yang disebut Renata oleh Sadath. Meski demikian, Sadath tak lantas percaya dengan cerita tersebut. Kemudian Iko menjelaskan keterkaitan yang terjadi pada sahabatnya dan apa yang menjadi cerita dari gadis bernama Renata itu. Iko pun menjelaskan bahwa sebenarnya maksud Renata adalah baik. Untuk membantu sahabatnya itu membentuk apa yang ia inginkan pada dirinya. Namun kekhawatiran muncul ketika ada fakta lain yang ditemukannya. 

“Buka halaman yang bisa kebuka deh. Terus perhatiin huruf pertama setiap elu nulis. Abis itu susun.”

Sadath perlahan memperhatikan setiap huruf yang ia tulis pada buku harian itu. Kemudian ia menyusun huruf demi huruf dan kaget bercampur takut.  Kemudian perlahan-lahan ia coba membuka halaman terakhir yang menempel seraya berucap sesuatu “Ini kalo huruf terakhirnya N gimana, ya? Gue kok takut sih jadinya?

“Gue juga kepikiran gitu dari tadi. Makanya gue suruh lu liat sendiri. Semoga aja sih nggak kejadian bener apa yang kita pikirin. Huruf-huruf ini kayak udah disetting banget. Jadi setiap elu nulis, harus berawalan huruf-huruf ini.”

Seraya terus mencoba membuka perlahan halaman terakhir yang menempel itu, Sadath terus berdoa agar apa yang ia fikirkan tak pernah terjadi. Dan begitu lembar terakhir terbuka kedua sahabat itu terdiam membisu menyaksikan ada sebuah jalimat yang sudah tertulis. Dan huruf awal pada kalimat itu menyusun menjadi sebuah kalimat serta menegaskan bahwa buku itu adalah… 
B U K U  K E M A T I A Nyawa kamu adalah milikku.

Tamat

Hari ke 13 (12): False Memory

10.13pm semangat ngetik episode terakhir. Ada sedikit sedihnya karena selepas ini belum tau mau bikin apa lagi. Tapi baca aja dulu lah yuk.. 

=============================

Matahari meninggi membuat hari minggu pada saat itu terasa begitu cepat berlalu. Sesekali angin semilir masuk ke dalam kamar Sadath melalui jendela yang ia buka lebar-lebar. Sikapnya tenang memandangi buku harian itu dari sandarnya pada salah satu sisi jendela. Mulut dan dahi seirama mencipta mimik wajah sedang berfikir. Sesekali menghela nafas sebab terlalu lelah mencari celah untuk membedah tujuan buku tersebut. Mengkhawatirkan akhir yang tak menampakkan sedikitpun gambaran. Kerutan pada sudut mata yang terfokus penuh menimbulkan resah, sehingga teduh seperti tak terasa menjamah pada tubuhnya. Ia kemudian membalikkan badan dan menatap keluar jendela setelah mendengar suara knalpot sebuah kendaraan yang memasuki halaman rumahnya. Setelah menyaksikan penuh bahwa itu adalah sahabatnya, ia lantas bergegas menuju ke ruangan depan.

“Lu kenapa tadi nggak dateng?” ucap Iko setelah melepaskan helm yang ia kenakan.
Sadath duduk di sebuah bangku yang terletak di teras rumahnya kemudian menjawab “Kan elu nggak minta gue dateng. Lagian gue bisa main bola itu mimggu lalu doang. Sekarang ini gue nggak yakin aja bisa lagi. Makanya gue nggak dateng.”

“Minggu lalu? Gue baru minta lu dateng tuh kemarin, biar lu nggak di rumah aja gitu. Biar punya kegiatan. Ini…” sambung Iko yang kemudian duduk di kursi sebelahnya.

Belum sempat Iko menyelesaikan ucapannya, Sadath yang terkejut lantas berbicara lagi “I..iya minggu lalu. Masa lu lupa? Latihan tanding sama temen anak universitas? Gue..”

“Iya hari ini lawan anak universitas mah. Makanya elu gue suruh dateng. Minggu lalu mah gue belum ada kepikiran buat ngajakin elu. Kenapa lu nggak dateng tadi?”

Dengan apa yang diutarakan oleh Iko itu membuat Sadath terdiam dan mencoba mengingat sesuatu. Kebingungan menguasai penuh suasana pada saat itu. Pasalnya, ia ingat betul memang, bahwa minggu sebelum minggu ini, ia merasa berada pada kondisi seperti yang ia ucapkan. Namun ketika Iko membantah seolah seperti tak pernah terjadi sesuatu pada hari itu.

“Jangan becanda deh. Nggak lucu tau. Gue inget banget kok gimana kita bertanding kemarin.” tegas Sadath.

“Dari pada nuduh gue yang nggak-nggak gitu, mendingan lu ambilin gue minum. Haus boy! Panas banget hari ini.”

Sadath terdiam sejenak memikirkan yang baru saja terjadi. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan bergegas mmengambilkan sahabatnya itu air minum. Dalam-dalam pikirannya mulai dirasuki kebingungan yang semakin terasa. Menimbulkan gejolak tanya luar biasa dari setiap ucapan Iko yang baru saja dilontarkan. Beberapa kali ia mencoba mengingat beberapa kejadian pada minggu lalu. Tak mungkin! Tak mungkin ia salah mengingat apa yang sudah ia lakukan. Bahkan rasa lelah selepas bertanding masih sangat menempel pada ingatannya. Cukup lama ia termenung di hadapan lemari es. Tak lama berselang ibunya mengejutkan lamunannya.

“Abang ngapain di sini? Itu loh ada temen kamu di depan. Cepet ambilin minum.”

“Iya bu, udah tau kok. Ini juga lagi aku ambilin. Oiya bu, ibu suka sama hadiah yang aku kasih?” tanya Sadath mencoba mencairkan suasana.

Ibunya lantas menoleh dengan tatapan penuh tanya “Hadiah? Hadiah apa?”

“Waktu ibu ulang tahun kemarin, loh. Masa lu…”

“Ulang tahun ibu? Abang.. Abang nggak usah terlalu kecewa karena nggak pernah inget ulang tahun ibu kapan. Abang sehat terus aja ibu udah seneng kok. Ulang tahun ibu, udah sebulan yang lalu. Udah ya, nggak usah dipikirin lagi” tegas ibunda Sadath seraya membelai kepala anaknya itu dan meninggalkannya.

Keadaan yang semakin membuat Sadath tertekan. Sungguh tak bisa dipercaya bahwa apa yang pernah dilakukannya kepada orang-orang terdekat seperti hilang tak membekas. Bahkan cenderung seperti ia tak pernah melakukan hal-hal tersebut. Carut marut pikirannya memecah setiap hal yang sudah dipikirkan sebelum kedatangan Iko. Kemudian dengan dikuasai penuh jasmaninya oleh rasa penasaran, ia kembali menghampiri Iko. Banyak hal yang ia ingin tanyakan sebab kejutan dari situasi yang terasa seperti menghukum tindak tanduknya selama ini. Dalam benaknya, ia seperti merasa sedang dikerjai. Namun dari sudut ruang kecil ingatannya, ia merasa seperti bahwa ini adalah nyata. Meski demikian, congkak rasa pernah melakukan sedang dalam kondisi utuh untuk meruntuhkan secuil perasaannya tersebut.

Beberapa hal yang ia tanyakan kepada Iko ternyata tak satupun mendapatkan jawaban yang memuaskan. Bahkan acap kali perdebatan terjadi sebab Sadath merasa memang pernah melakukan apa yang diucapkannya kepada sahabatnya itu. 

“Buku apa? Gue nggak pernah tau soal itu. Dan soal Renata yang barusan lu ceritain ini siapa? Udah lah sadar, jangan bikin khawatir gini.” Iko mulai membatah secara tegas.

“Renata, men. Yang jadi juri waktu kita ngalahin Alex kemarin. Ya Tuhan.. Ini kenapa jadi begini sih?” Sadath makin larut dalam kebingungan.

“Makin ngelantur aja. Udah cukup deh ya. Gue makin nggak ngerti ini tujuan lu kemana. Yang pasti soal Ibu Maryam, menang dari Alex, dimensi lain, Renata, buku harian misterius dan semua yang udah lu jelasin barusan itu aneh. Pertanyaan gue, elu lagi kenapa?” tanya Iko seraya menatap serius sahabatnya itu.

Sadath kemudian kembali menjelaskan apapun yang ia rasakan. Memaparkan segala hal yang memang pernah ia lakukan. Dan Iko tetap merasa semua itu tidak pernah terjadi. Justru Iko malah menganggap sahabatnya itu sedang berhalusinasi. Segala rasa bercampur di dalam diri Sadath pada saat itu. Kepalanya dipenuhi dengan segudang pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian ia teringat akan buku harian miliknya. Ia bergegas menuju kamar untuk mengambil buku itu agar apa yang ia ucapkan benar terjadi.

“Oke mungkin semuanya nggak bisa gue buktiin. Tapi gue punya ini untuk membuktikan kalo gue benar.” Sadath menyerahkan buku miliknya kepada Iko.

Iko membuka lembar demi lembar buku tersebut. Sesekali gesturnya seperti sedang meneliti sesuatu. Terus membaca setiap kalimat yang tertera pada buku itu.

“Gimana? Gue nggak bohong kan? Elu yang ngerjain gue.” ucap Sadath yang melihat Iko terdiam karena buku itu.

“Ini semua tulisan lu, kan? Isinya semua harapan lu gini.” tanya Iko.

Sadath terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Iko. Kemudian ia mengambil buku itu dan mulai membacanya perlahan.

“Elu lagi terjebak di false memory, ya? Halusinasi lu huat yakin kalo apa yang lu tulis ini pernah lu lakukan sebelumnya. Perlu lu ketahui, dengan lu yang seperti sekarang ini, gue nggak pernah malu untuk mengakui lu sebagai teman. Elu nggak perlu jadi orang lain buat nyari simpati dari gue. Cukup, boy.. ”

Lagi dan lagi Sadath tersentak dengan apa yang diutarakan oleh sahabatnya itu. Pikirannya menjadi semakin kacau karena mendapati apa yang tertulis pada buku itu adalah benar seoerti tulisan tangan miliknya. Seperti yang Iko katakan, ia juga mulai menyadari bahwa sepertinya ada yang salah dengan keadaan dirinya saat ini. Memorinya memburuk dan kepalanya terasa berat. Ia merasa semua rekaman tentang apapun yang pernah ia lakukan akhir-akhir ini sirna. Perlahan memudar dan sungguh sangat menyiksanya. Beberapa kali ia memegangi kepalanya sebab sakit yang ditimbulkan. Kemudian Iko merangkulnya dan menjelaskan maksud dari terjebaknya sang sahabat dalam dunia False Memory. 
False Memory adalah ingatan seseorang tentang sesuatu yang tidak pernah terjadi. Kondisi dimana identitas dan hubungan seseorang dengan orang lain yang dipengaruhi oleh ingatan yang sebenarnya tidak benar, namun dipercayai dengan kuat. Hal ini terjadi sebab salah satu kelemahan manusia adalah seringnya melewatkan tahap otentikasi pada informasi yang tersimpan di dalam ingatan. Padahal pikiran mudah sekali terkena ilusi, sehingga dengan mudah mengubah apa yang di ingat.

Seperti yang terjadi pada Sadath menurut apa yang dikatakan oleh Iko. Penjelasan dari Iko merubah semua yang awalnya diyakini olehnya. Meski masih sulit menerima keadaan tersebut, namun matanya perlahan seperti mulai terbuka lagi. Namun rasa kuat ingin kembali menjadi seperti sebelumnya membuatnya seolah enggan untuk kembali. Rasa itu pupa yang memanjakannya untuk tetap berada di dalam kepalsuan ingatannya itu. Siapapun akan merasa nyaman berada pada titik tertinghi pencapaiannya. Oleh karena itu, Sadath sangat menyayangkan semua itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Di saat yang cukup genting itu dengan begitu tenang, Iko memeluk sahabatnya itu dan berucap.. 

“Jangan takut. Ada gue di sini. Bangun aja bangun. Kita semua sayang sama lu…”

Bersambung…

Hari ke 13 (11): Cermin

8.49pm mendekati episode terakhir yang gue ngetiknya antusias banget. Semoga masih dan makin nyenengin buat dibaca. Yuk.. 

==============================

“Yang masih jadi pertanyaan buat gue sampe hari ini, kenapa harus cermin, ya?”

Ucapan dari Iko setelah mendengar penjelasan dari Sadath perihal kalimat di halaman berikut dari buku harian itu. Sebelumnya mereka telah membahas habis perihal Renata. Asumsi dan frasa mereka bahwa Renata adalah ilusi semakin terasa. Meski penuh dengan kejanggalan yang cukup untuk menyangsikan bahwa Renata adalah ilusi, namun tampaknya Iko merasa cukup dengan penjelasan yang diberikan oleh sahabatnya itu. Sedikitnya ia memahami apa yang ingin buku itu sampaikan. Maka muncul lah dalam benaknya tentang pertanyaan yang merajuk pada cermin.

“Kalo soal itu, gue punya penjelasan sedikit. Kenapa harus cermin, kan? Menurut gue ini cukup jelas kalo buku ini memang sepenuhnya kejujuran. Logikanya simple, lu nggak pernah liat kan ada cermin yang bohong? Misal, elu pake baju warja biru terus ngaca berubah jadi warna merah. Nggak pernah, kan?” Sadath menjawab pertanyaan Iko.

Iko mengangguk setuju namun tetap dengan wajah penuh tanya. Kemudia ia berucap “Sebentar.. Nggak relevan dong. Buku ini kalo tanpa cermin bahasanya Belanda, sedangkan ketika dipantulin bahasanya berubah.”

Sadath kemudian menjelaskan “Loh, tapi sejauh ini semua yang tertulis bener dan kejadian. Gini, maksud gue bilang cermin itu jujur. Emmm.. Buku ini aslinya pake bahasa Belanda. Dan ketika gue cerminkan berubah jadi bahasa yang gue ngerti. Jadi, cermin itu bikin gue nggak menerka apa yang buku ini maksudkan. Nggak mengurangi apapun yang terjadi sama gue juga.”

Cermin adalah permukaan yang licin dan dapat menciptakan pantulan bayangan benda dengan sempurna. Sering memang terdengar atau terbaca bahwa cermin dan kejujuran adalah hal yang tak terpisahkan. Bahkan dalam sebuah kalimat untuk mengkoreksi diri, cermin adalah kata yang sering dipakai. Entah berasal dari mana stigma tentang bercermin maka mengiterospeksi diri, namun frasa bahwa cermin tak pernah berdusta menguatkan stigma itu. Memang benar yang ditampilkan oleh cermin adalah apa yang sebenar-benarnya terjadi. Dalam teori apapun, cermin adalah pantulan apa yang terlihat oleh dunia dan benar adanya. Bahkan benda tersebut sering dikaitkan dengan pintu menuju dimensi lain. Meski hanya sekedar mitos, kekuatannya cukup untuk membuat beberapa film mengangkat kisah yang bertumpu pada cermin. Seperti dalam dongeng putri salju, bloody marry dan masih banyak lagi kisah yang membuat cermin menjadi hal yang mampu dianggap remeh. Berevolusi menjadi menakutkan ketika berada ditempat yang syarat dengan mistis, juga bisa cermin lakukan.

Kejujuran cermin terkadang membawa kita pada hipnotis pada diri kita sendiri. Seperti tak menariknya penampilan saat becermin, membawa kita untuk merubah diri agar terlihat menjadi lebih menarik. Lesu yang tertampil, membawa kita untuk melakukan hal yang mampu memberikan kesegaran pada tubuh. Serta banyak lagi keadaan yang muncul pada cermin dan merubah diri kita melalui hipnotisnya. Baik secara logika atau mistis, cermin adalah pengaruh besar sebuah peradaban. Cermin adalah portal fisik yang berdiri sendiri. Tidak lain merupakan energi bebas dari penahanan yang ada di berbagai tempat di dunia, atau disebut pusaran waktu spasial. Fenomena ini berada dalam bidang pusaran pergeseran fase. Benda ini juga sering dianggap sebagai reflektor kuat dalam menghasilkan cerita mengerikan dan kejahatan yang diperburuk. Tidak hanya proporsi langsung dari augmentasi sumbernya, tetapi juga dalam rasio yang terus meningkat.

Obrolan kedua sahabat itu terus berlanjut dan membawa pada cerah seperti yang mereka inginkan. Mulai memahami sebagian besar dari maksud hadirnya buku itu di kehidupan mereka.

“Oke gue sepakat kalo maksud dari cermin itu kejujuran yang pengen buku ini sampaikan. Tapi soal misteri yang banyak terjadi ke kita akhir-akhir ini, apa mungkin memang ada cerita khusus di dimensi lain soal buku ini?” tanya Iko menegaskan perhatiannya terhadap penjelasan sahabatnya itu. 

Sadath menjawab singkat “Kalo gue rasa, ada.”

Memang dalam hal ini sedikit sulit untuk memastikan fakta yang sesungguhnya. Ditambah dengan pengetahuan mereka sebagai seorang pelajar SMA yang cukup minim. Dalam keharusan sebab hadirnya buku ini saja, mereka harus memaksa diri untuk memiliki pandangan yang cukup jauh. Beberapa buku mereka pelajari untuk mengupas tuntas misteri yang sedang terjadi kepada mereka. Memang begitu banyak dampak positif yang telah diberikan oleh buku harian tua ini, namun sumber dari segala misteri yang terjadi belum juga terungkap.

“Oh iya, semalem gue mimpi lagi kayak waktu kita abis ritual yang pertama waktu itu. Orang itu duduk, tapi ngebelakangin gue. Gue nggak bisa gerak tapi bisa denger suara dia ngomong. Suaranya persis elu.” ucap Iko di saat sedang asik membahas perihal cermin.

Sadath terhenyak dan menatap Iko penuh keseriusan. Ia meletakkan buku yang dipeganginya sedari tadi dan meminta Iko melanjutkan ceritanya.

“Agak samar-samar, tapi gue ngerti apa yang dia omongin. Jadi tujuan dia tuh buat bilang kalo nggak usah repot-repot nyari tau soal Renata, karena Renata itu ya elu.”

Sadath terkejut dan berucap “Nah! Apa gue bilang. Renata itu ilusi gue yang berhasil lu visualisasi jadi keliatan nyata, bener kan. Gue nggak mimpi apapun soalnya.”

Iko kebingungan dengan penjelasan yang diberikan oleh sahabatnya itu. Beberapa kali ia coba menyanding-nyandingkan setiap kejadian yang terjadi, namun usahanya sia-sia. Ia terdiam cukup lama untuk kembali mencerna maksud dari semua yang telah terjadi. Sosok Renata yang ternyata ilusi dan cermin sebagai wujud sebuah kejujuran, ini yang membuat dirinya bertanya-tanya terus menerus. Sekelumit yang muncul dalam benaknya adalah Renata merupakan bagian dari dimensi lain cermin. Ia menampilkan cerita miliknya melalui apa yang telah Sadath lakukan sejauh ini. Melihat Sadath yang jauh berbeda dengan segala perubahan yang telah terjadi, membuatnya sedikit berfikir bahwa ini adalah anugerah yang ditularkan oleh Renata. Kemudian dengan begitu banyak penjelasan yang cukup mampu diterima oleh akal sehatnya, sudut pandangnya perihal kemistisan Renata runtuh seketika. Rangkaian persepsi yang telah terlecut memang telah membawanya pada tahap di mana ia tak tahan lagi untuk mengetahui segala apapun yang buku harian itu inginkan. Namun sepertinya memang tak semudah seperti yang ia bayangkan. Satu hal yang ia rasakan betul adalah, bahwa buku itu cukup memberikan begitu banyak hal yang sebelumnya tak ia ketahui. Meski melalui tahapan mempelajari banyak buku, tapi ia yakin bahwa kejujuran dari buku itu ingin mengungkap bahwa dirinya mampu untuk mencapai level seperti saat ini. Dan siapapun itu, jika ingin berusaha, maka ia memang berhak untuk mendapat apa yang telah berada dalam genggamannya.

Malam menjelang dan kedua orang ini masih terus mencoba mengupas isi keseluruhan isi buku harian itu. Dengan lelahnya perdebatan dan juga pencarian akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi hari itu. Dan sebelum Iko meneruskan keinginannya untuk berpamit, keduanya sepakat untuk membuka halaman berikut buku harian tersebut. 

Ikuti apa yang sudah kamu fikirkan’

Ketika buku itu memunculkan tulisan, Iko mendapat sebuah pencerahan. Dan menanyakan kepada sahabatnya itu. 

“Kalo buku ini bilang begini, berarti kan yang lu bilang bener. Apa berarti semua ini Ilusi lu yang gue proyeksikan menjadi nyata?”

Sadath terdiam dan bersungut. 

“Eh tapi enggak ding. Kalo ini ilusi, harusnya gue nggak bisa saksiin secara langsung prosesi lu ngebongkar kalimat berikut. Aaaaahhh tau lah, bingung gue. Gue pulang dulu aja. Besok gue kesini lagi abis latihan.” ucap Iko seraya bangkit dari duduknya dan kemudian menggenakan jaket. 

Setelah yang mereka lalui hari ini, membuat mereka yakin bahwa tujuan dari buku itu adalah untuk membawa mereka menuju bisa. Bisa untuk menggapai apa yang mereka ingin jika terus berusaha. Sekelumit pesan ini memang tidak begitu gamblang membongkar keinginan sang buku, namun dengan sedikit pencerahan yang mereka dapatkan setidaknya mereka jadi mengerti bahwa buku ini memiliki tujuan yang baik, meski masih sepenuhnya dikuasai oleh misteri. Iko kemudian berpamitan pada kedua orang tua Sadath dan pulang dengan masih mengantongi misteri itu. Pun dengan Sadath, sedang ia adalah pemilik buku itu, maka tanda tanya besar menghantuinya sebab misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya. Semakin menipisnya halaman yang tersisa, maka semakin menguat rasa penasaran terhadap akhir dari yang buku itu inginkan. 

Bersambung…. 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑